Pagi, tinggalku
sendiri
Jangan kau mendekat
walau matahari
Dingin hati yang
bersedih
Tak begitu tenang,
bulan terabaikan
Hari yang cerah
untuk jiwa yang sepi
Begitu terang untuk
cinta yang mati
Kucoba bertahan dan
tak bisa
Gunung, langit
kelabuku
Tak begitu luas
seperti mengundang
Kini tak terulang
lagi
Dihari yang cerah
dia telah pergi
Hari yang cerah
untuk jiwa yang sepi
Kucoba bertahan dan
tak bisa
Mencoba melawan,
kulepas
Hari yang cerah
untuk jiwa yang sepi
Begitu terang untuk
cinta yang mati
Kucoba bertahan dan
tak bisa
Mencoba melawan,
kulepas
Semua telah hilang
Semua telah...
Petikan senar ukulele
mengakhiri lagu yang dinyanyikannya. Seorang anak perempuan dengan muka
coreng-moreng dan rambut gimbal tak terurus mengeluarkan bungkus permen bekas
dan menggoyang-goyangkan benda tersebut ke hadapan semua penumpang bis yang
ditumpanginya secara gratis. Anak lelaki yang tadi bernyanyi mengikutinya dari
belakang. Mereka berdua melakukan hal yang sama dengan arah berbeda. Si gadis
kumal itu mengambil alih bagian bis sebelah kiri sedang kakaknya, anak lelaki
itu, diarah sebaliknya. Hanya beberapa orang yang peduli pada mereka dengan
memberikan beberapa uang receh ke dalam bungkusan permen lusuh itu.
Mereka berjalan ke belakang
bis masih dengan mengerenceng bungkusan permen lusuh yang kini agak penuh
terisi. Bis berhenti tepat saat mereka selesai melakukan pekerjaannya.
Terminal itu penuh padat.
Banyak orang, dari berbagai bentuk wajah, cantik atau jelek, bersih atau kumal,
seperti mereka, kulit putih atau hitam, rambut lurus, keriting, keribo, bahkan
gimbal, seperti anak pengamen ini memenuhi setiap sudut terminal yang lumayan
besar itu.
Kedua pengamen cilik tadi
sudah turun dari bis itu dengan sebuah hardikan keras dari sang kondektur.
“Pergi sana! Dasar pengamen, cuma enak numpang aja. Sekali-kali bayar dong!
Huu...” begitu kata sang kondektur sambil mendorong tubuh kecil kerempeng
mereka keluar dari bisnya. Beberapa orang yang berada diluar bis dan penumpang
yang hendak turun dari bis itu langsung mengalihkan perhatian mereka pada kedua
pengamen cilik tersebut dan berbisik membicarakan cara sang kondektur yang
dengan tega mendorong dan mengusir anak kecil itu dari bis.
Sang kondektur cepat
menanggapi situasi. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tatapan beberapa
orang seperti menghina perbuatannya.
“Memangnya kenapa? Anak kecil tak tahu diri itu yang salah. Aku kan hanya
mencari uang saja disini.” Begitu gumamannya sambil mengerucutkan mulutnya.
“Yo... yo...” serunya
sambil mengetuk-ngetuk keras pintu bis yang masih ternganga lebar, menyuruh
sang sopir untuk menjalankan mobilnya. Sang sopir memutarkan kepalanya, melihat
baru beberapa orang saja yang sudah masuk ke dalam bisnya. Dia menoleh pada
anak buahnya, “Edan, baru segini penumpangnya? Cari terus sampai penuh, Meng!
Saya tidak bisa pulang kalau penumpang sedikit kayak begini. Cari terus!!”
teriaknya pada sang kondektur yang berdiri diambang pintu bis.
“Sip, bos!” yang dipanggil
Meng itu segera menjawab sambil mengacungkan jempolnya. Sang sopir melirik
melalui jendela, dia tersenyum sambil manggut-manggut.
“Medang, Cirbon, Medang,
Cirbon, Medang, Cirbon...!!!” serunya sambil berteriak keras. Yang dimaksud
dengan Medang adalah Sumedang dan Cirbon adalah Cirebon. Nama-nama kota memang
selalu disingkat oleh kondektur untuk menarik para calon penumpang. Dan cara
tersebut berhasil membuat banyak orang memasuki bis ini. Dan sekarang, semua
kursi sudah penuh diduduki oleh para penumpang dan beberapa orang rela berdiri
sementara sang kondektur memberi aba-aba lagi dengan mengetuk keras pintu bis
kepada sang sopir. Dan bis pun mulai melaju pelan memasuki jalan raya yang
macet.
Berbagai jenis manusia ada
didalam bis ini. Dari perempuan dan laki-laki, tua-muda, bayi, balita, anak SD,
mahasiswa, karyawan, beberapa nenek-nenek dan kakek-kakek juga ada dalam
kesempitan ruangan ini. Mulai yang berdandan menor, berpakaian sangat ketat
sehingga membuat beberapa pria hidung belang tergoda untuk terus melihat bentuk
tubuh sang wanita yang aduhai. Ada yang rambutnya dicat warna orange dan merah,
meraka adalah orang-orang yang tidak pernah kesampaian cita-citanya menjadi
bule. Lalu ada yang bergaya punk dan gothic sambil berdiri angkuh merasa dia
sedang diperhatikan banyak orang dan dipuja-puji dibelakangnya. Karena dia
mendengar beberapa orang sedang berbisik. Padahal yang sebenarnya dibisikkan
beberapa orang adalah gayanya yang amburadul dan kumal juga aneh. Disamping
orang yang bergaya kumal itu ada seorang ibu paruh baya yang berpenampilan
paling mencolok diantara semua penumpang bis itu. Dia bagaikan toko emas
berjalan yang sedang berdiri terombang-ambing karena keolengan bis ini yang
melaju dengan kecepatan penuh. Berbagai perhiasan tertempel ditubuhnya. Mulai
dari gelang emas oversize, cincin
emas dan perak yang dipakai dienam jari tangannya, kalung maxi berbandul sebuah burung hantu, dan bros warna emas
dikerudungnya. Masya Allah untuk apa dia memakai semua perhiasan itu. Dia juga
memegang sebuah dompet kecil ditangannya. Dan saat dia membukanya, keluar
sinar-sinar emas dari dalamnya. Beberapa orang tertarik melihat isi dompetnya.
Ada kartu kredit, uang pecahan seratus ribu rupiah berlembar lembar, juga
beberapa uang lima puluh ribu, dua puluh ribu, seribu lecek dan beberapa uang
receh.
“Ongkosnya bu, ongkosnya
pak!” sang kondektur mulai berkeliling menagih bayarannya pada para penumpang.
Dia berhenti disamping seorang pria kumal berpakaian serba denim robek. Pria
itu berkumis tipis namun jenggotnya menutupi sebagian dagunya. Dia merogoh
koceknya dan mengambil uang seribu rupiah lecek sebanyak lima lembar kepada
sang kondektur. Lantas dia berkata, “Nalegong!” dan sang kondektur mengerti
lalu mengambil semua uang kertas itu. Dia rapikan satu persatu uang lecek itu
kemudian dia lipat dengan rapi.
Dia menghampiri seorang
wanita berpakaian ketat. Matanya menelusuri seluruh tubuh wanita muda itu dan
dipikirannya dia bisa membayangkan bentuk tubuh wanita ini jika bajunya
dilepas. Nafsu menggoda nuraninya. Tak sadar tangannya sudah mencolek dada
wanita muda itu. Sang wanita menoleh padanya dan langsung melayangkan sebuah
tamparan keras ke wajahnya. Lantas dia memukuli sang kondektur dengan tas
tangannya dengan keras dan bertubi-tubi. Sang kondektur terduduk dilantai
dengan tangan menutupi kepalanya, cara klasik melindungi dirinya dari pukulan
keras tersebut. Beberapa orang yang tak tahu apa-apa langsung mengarahkan
perhatian pada mereka berdua.
“Dasar preman lu! Seenaknya
aja nyolek gue. Lu udah melecehkan gue!!” dan seketika beberapa orang didekat
sang wanita segera ikut serta dalam aksi pemukulan sang kondektur setelah
mereka menyadari perbuatan pria itu. Sang kondektur semakin terdesak. Tubuhnya
mulai lemas, dan lengannya terkulai lemas, uang yang sudah dikumpulkan dari
beberapa penumpang terjatuh begitu saja. Tanpa disadari seorang pria berpakaian
serba denim tadi memunguti semua uangnya.
Sang wanita berpakaian
ketat tadi telah lelah memukuli sang kondektur. Dia menabrak ibu toko emas
berjalan saat bis menikung tajam disebuah belokan. Untungnya dia masih bisa
menahan berat tubuhnya dengan berpegangan pada sandaran kursi bis didepannya.
Sedangkan ibu toko emas berjalan tersebut jatuh terjerembab disamping kerumunan
orang yang tengah memukuli sang kondektur. Dompetnya pun terjatuh. Sudut
matanya menangkap keberadaan dompet emasnya itu, namun saat tangannya hendak
meraih benda kesayangannya sebuah tangan lain berhasil mengambil dompetnya.
Pria berpakaian serba denim-lah yang telah mengambilnya.
“Hey copet!!!” teriaknya keras.
Beberapa orang langsung memutar pandangannya pada pria berpakaian serba denim
tersebut. Bis tiba-tiba berhenti karena sang sopir melihat kerusuhan dalam
bisnya dan sadar bahwa anak buahnya tengah dipukuli. Kesempatan ini tidak
disia-siakan oleh pria berdenim tersebut. Dia segera bangkit dan berjalan
dengan susah payah melewati kerumunan itu dan keluar dari bis dengan
terbirit-birit. Ibu toko emas berjalan itu meminta tolong pada semua orang didalam bis tersebut.
Beberapa orang berlari keluar bis mengejar pencopet itu. Orang-orang yang ada
diluar pun bertanya-tanya, ada apakah gerangan yang terjadi?
“Woy copet...!!! copet!!!”
keramaian orang yang sedang menunggu bis ditrotoar segera menarik diri,
meninggalkan tas-tas mereka untuk mengejar seorang copet berpakaian serba
denim.
“Kejar...!!” seru seorang
laki-laki, salah satu penumpang bis. Salah satu lengannya menunjuk ke arah
pencopet itu.
Pria berdenim alias
pencopet terus berlari melewati berbagai orang dijalanan. Lalu tak sengaja dia
menabrak seorang pria kantoran. Kelihatannya pria kantoran itu tidak tahu bahwa
pria berdenim adalah seorang pencopet.
“Maaf, maaf pak.” Katanya
sambil membantu pria berdenim tersebut berdiri. Namun sebuah teriakan keras
dari beberapa orang yang mengejarnya segera menyadarkan sang pria berdenim
tersebut. Dia menepis tangan pria kantoran itu dengan keras lalu mendorongnya
hingga jatuh terjerembab. Pria berdenim itu segera lari terbirit-birit lagi
meninggalkan pria kantoran yang telah membantunya.
“Woy copet... copet!!!” orang-orang
itu terus berlari mengejar sang pencopet. Mereka semua berlari melewati sang
pria kantoran itu dengan acuh.
Pria kantoran itu
menepuk-nepuk celananya yang kelihatan kotor oleh debu dan pasir. Dia lalu
mengambil tasnya dan pergi dari situ. Dia berjalan dan berjalan melewati
kerumunan orang yang sedang menunggu bis di trotoar. Lalu sebuah deringan
memecahkan keheningan dipikirannya. Dia merogoh sakunya dan mengambil
handphone-nya.
“Halo?” katanya sebelum
orang diseberang sana berbicara.
“Mas, kamu lagi ada dimana
sih? Kita lagi ada jadwal di pengadilan kan? Cepetan kamu datang.” Tubuhnya
segera lemas setelah mendengar kata pengadilan. Siang ini dia tidak pergi ke
kantornya seperti biasanya. Dia sedang berusaha menghindari sidang perdana
perceraiannya dengan sang istri. Entah sejak kapan, istrinya berubah. Atau
mungkin dia yang berubah? Ah, entahlah. Istrinya selalu menginginkan perceraian
darinya. Sampai suatu hari dia tak sengaja tahu tentang alasan sang istri ingin
bercerai darinya. Seorang pria kaya mengantarnya pulang ke rumah. Dia tak
segan-segan mencium istrinya. Dan saat itu hatinya sakit mengetahui istrinya
berselingkuh dengan bosnya sendiri.
Dia masih menyayangi
istrinya. Apalagi anak-anaknya masih kecil, masih belum mengerti arti
perceraian. Ia takut jika ia bercerai dengan istrinya, kelak anak-anaknya akan
menderita batin. Mungkin akan ada rasa traumatik yang membebani mereka. Jadi
hari ini tepat jadwal perdananya di pengadilan agama, dia berusaha melarikan
diri. Dia tidak menginginkan perceraian ini.
“Aku tidak bisa datang.”
Katanya dengan suara pelan dan sedikit bergetar. Sebelum istrinya berkomentar
banyak, ia buru-buru mematikan handphone-nya dan melepaskan baterainya agar
istrinya tidak berusaha meneleponnya lagi.
Langkah kakinya terhenti di
sebuah jembatan lebar yang ada disana. Dia menatap ke bawah, melihat air keruh
mengalir lumayan deras dan mengukur seberapa tinggi jembatan ini. Tapi
sepertinya memang tinggi. Dia menghembuskan napasnya perlahan.
Aku ingin mati saja kalau begini caranya. Aku tidak
ingin membebani istriku lagi. Biarlah dia menikah saja dengan bosnya itu dan
hidup bahagia bersama ketiga anaknya. Ini memang sudah takdirku. Begitu katanya dalam hati.
Matanya gelap memandang
kedalaman sungai berarus lumayan deras itu. Tangannya terkepal menggenggam
handphone-nya, menahan amarah yang mengalir melalui urat nadinya. Tapi sebuah
gerakan tiba-tiba menjatuhkan handphone-nya. Dia menoleh, melihat seorang gadis
berjas almamater ITB ada disampingnya sambil mengangguk-angguk minta maaf.
“Maaf, maaf pak!” katanya
begitu
Pandangannya kembali ke
dasar sungai. Dia tidak melihat handphone-nya lagi, benda itu hilang terhanyut
arus sungai keruh dibawahnya.
“Saya akan ganti
kerugiannya, pak!” kata sang gadis berkerudung itu. Dia mengambil dompetnya
dari dalam tas. Namun gerakan tangannya berhenti saat mendengar ucapan pria
kantoran itu.
“Tidak usah diganti. Saya
malah berterima kasih pada adik. Sana, pulanglah. Pasti orangtuamu mencari.”
Ujarnya pada sang gadis berkerudung itu.
Sang gadis hanya mengangguk
pelan dan melenggang pergi meninggalkan pria itu. Pria kantoran itu tidak jadi
melompat saat melihat gadis tersebut. Dia segera teringat akan nasib ketiga
anaknya jika ia meninggalkan mereka.
Sementara itu, gadis
berkerudung itu berjalan dengan langkah gontai. Diwajahnya yang sendu
menyiratkan bahwa dia sedang bersedih, berputus asa. Dia menggeser pandangannya
pada sebuah kertas berisi nilai-nilainya semester ini. Semuanya buruk, tidak
ada nilai yang mencapai angka B, yang ada hanya C dan D memenuhi setiap
kolomnya. Bagaimana nilainya sampai seburuk ini? Kalau begini caranya, mungkin
beasiswa yang menanggungnya kuliah di tempat itu akan segera dicabut.
Pikirannya gelap, dia frustasi.
Dia berjalan dan terus
berjalan. Matanya melihat pemandangan tidak biasa dihari ini. Dia melihat
seorang pria digiring keluar bis dengan wajah babak belur. Lalu seorang wanita
muda berpakaian super ketat juga keluar dari sana dengan dipapah beberapa
ibu-ibu dari dalam bis. Wanita itu menangis sesenggukan.
Dia kembali berjalan agak
jauh dari sana dan melihat pemandangan aneh lagi. Dia melihat kerumunan orang
sedang memukuli seorang pria berpakaian serba denim. Dua orang polisi lalu
lintas yang sedang bertugas disana segera menyingkirkan beberapa orang,
berusaha menghentikan aksi pemukulan itu. Lalu dia melihat seorang ibu paruh
baya dengan penampilan mencolok menghampiri kerumunan itu, seorang dari mereka
menyerahkan sebuah dompet kepadanya.
Dia diam di trotoar itu sampai
sebuah bis berhenti dan dia masuk ke dalamnya. Dia berhasil mendapatkan sebuah
kursi kosong. Didalamnya tengah ramai dengan suara ukulele yang dimainkan
seorang pengamen cilik dan seorang anak perempuan disampingnya yang bernyanyi
bersama anak laki-laki itu. Suara cempreng khas anak kecil mengiringi kepergian
bis ini. Dia menatap kedua anak itu dengan pilu. Sebuah lagu berdendang
diruangan itu.
Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
Begitu terang untuk cinta yang mati...