Jalan Lain Menuju Inggris


Ada banyak jalan menuju Roma. Peribahasa tersebut sepertinya cocok dengan pengalaman mahasiswa satu ini untuk menggapai mimpinya kuliah ke luar negeri. Mayesti Akhriani menceritakan pengalamannya menempuh berbagai jalan untuk bisa sukses kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Statusnya sebagai mahasiswa pascasarjana University College London dan penerima beasiswa LPDP, merupakan bukti kerja kerasnya.
Berawal dari cita-citanya bersama teman sekelas semasa SMA, Maya – panggilan akrabnya – kini berhasil menjejakkan kakinya di tanah Ratu Elizabeth. Alumnus Jurusan Ilmu Gizi Universitas Brawijaya ini awalnya berkeinginan untuk melanjutkan studinya di Turki. Namun karena beberapa hal, akhirnya ia mencoba mendaftar ke Wageningen University di Belanda. Tapi langkahnya sempat terhenti karena pendaftaran sudah ditutup sementara ia belum mempunyai sertifikat IELTS. Dari pengalamannya itu, Maya menyimpulkan bahwa IELTS adalah salah satu syarat paling penting untuk mendaftar ke universitas luar negeri, terutama di negara-negara Eropa.
Untuk urusan penguasaan bahasa Inggris, Maya yang pernah mengenyam pendidikan di SMA N 1 Soreang Kabupaten Bandung ini sudah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler ECC (English Conversation Club) sejak SMA. Saat di bangku kuliah, Maya mendapat skor TOEFL ITP 490, angka yang terbilang kecil untuk bisa kuliah ke luar negeri. Setelah lulus, Maya pun mencoba mengikuti preparation IELTS selama 3 bulan di kampung Inggris di Pare.
Ia tak pantang menyerah. Sekembalinya ke Bandung, Maya tetap melanjutkan les bahasa Inggris agar kemampuannya tersebut makin terasah. Belajar dari pengalaman pertamanya yang gagal mendaftar ke universitas luar negeri karena belum memiliki sertifikat IELTS, Maya menargetkan dirinya mendapatkan skor IELTS tinggi pada tahun 2016.
Untuk berkuliah di Inggris, Maya tak mengeluarkan biaya sepeser pun alias gratis. Ia merupakan awardee LPDP, sebutan bagi mahasiswa penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementrian Keuangan.


 Mayesti Akhriani didepan BigBen, London, UK. (sumber:akun instagram Mayesti Akhriani)

Maya merupakan sedikit dari banyak mahasiswa yang menjadi pemburu beasiswa. Awal pencariannya dimulai ketika pihak kampus mengadakan seminar beasiswa. Maya tercatat pernah mengikuti seminar tersebut sebanyak 2 kali. Pada 2013, Kemenkeu membuka pendaftaran beasiswa, yang lebih dikenal dengan nama LPDP. Namun rasa tidak percaya diri menghinggapi Maya karena tak punya sertifikat IELTS dan kemampuan bahasa Inggrisnya juga belum mumpuni. Akhirnya ia urung untuk mendaftar.
Maya mulai mencari tahu lebih lanjut tentang beasiswa LPDP. Mulai dengan menanyakan langsung tentang pengalaman dari para awardee sebelumnya hingga rajin mengunjungi website resmi LPDP. Menurutnya, informasi yang didapat jauh lebih akurat karena bersumber langsung dari para awardeenya itu sendiri.
Setelah lulus dan mendapat skor IELTS yang cukup pada 2016 lalu, Maya mantap mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Tak disangka, akhirnya Maya pun lolos dan terbang ke Inggris pada awal 2017 lalu.
Untuk mendapatkan beasiswa ini haruslah mempunyai dampak positif untuk orang banyak setelah lulus kuliah nanti, begitu penjelasan Mokhamad Mahdum selaku Direktur LPDP saat dirinya memberikan ceramah pada seminar LPDP Edu Fair 2017 di Bale Sawala Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Rabu (17/05/2017).
Beasiswa LPDP adalah dana beasiswa yang dialokasikan dari pajak rakyat Indonesia, sehingga sangat pantas bila kontribusinya juga dikembalikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, Mahdum selalu mengingatkan para awardee, khususnya yang berkuliah di luar negeri, untuk kembali pulang ke Indonesia dan membangun negara ini agar lebih maju.
Beberapa strategi pun ia berikan kepada hampir 500 orang yang hadir menyesaki Bale Sawala. Yaitu merubah cara pikir dan sukses bersama. Ia juga tak lupa memberikan mantra jitu untuk bisa lolos beasiswa dan kuliah ke luar negeri. “Man jadda wajada”, ujarnya bersemangat.

Keterangan tulisan
·         Jenis tulisan                 : Artikel
·         Tema tulisan                : Pendidikan/Edukasi
·         Jenis foto jurnalistik    : Feature Photo
·         Segmen tulisan            : Usia

Keterangan foto
·         Waktu                         : 18 Juli 2017 8:17 AM
·         Tempat                        : Indoor
·         Jenis kamera                : DSLR Canon EOS 100D
·         Exposure time             : 1/30 sec
·         ISO speed                   : ISO-3200
·         f/number                      : f/5

Pola sumber informasi
·         Wawancara – telephone interview
·         Foto diambil setelah tulisan selesai dibuat.



0 komentar