Sebagian orang kayaknya gak menyadari mentalnya sedang sakit, gak stabil, dan sedang lemah.
Sebagian lagi justru sedang menyadari mentalnya sedang sakit atau menyadari dirinya sedang gak baik-baik aja tanpa tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi sama dia.
Pernah gak sih kalian bertanya-tanya sama diri sendiri: Aku tuh kenapa? Kok gini sih? Hati aku berat banget tapi juga kosong. Mau nangis, udah di dalam hati, tapi gak bisa diekspresikan lewat air mata, kayak air mata tuh udah habis, kering gak bersisa. Yang tersisa cuman rasa perih di hati, tapi gak tau harus ngapain.
Nah, hal-hal kayak gitu sebenarnya indikasi kalau kalian tuh sedang gak baik-baik aja. Kalian sakit dan harus segera diobati. Gimana ngobatinnya kalau kita aja gak tahu kita sakit apa? Yap, satu hal yang mesti dilakukan pertama kali adalah menyadari kalian terluka dan mencari letak luka itu. Kalau gak kayak gitu, selamanya kalian akan didera rasa sakit yang gak terkira, rasa sakit yang gak ada bentuknya, kayak rasa sakit transparan. Kalau mau maksa harus ada bentuknya, rasa sakitnya tuh mirip hologram: gak bervolume, gak bisa diraba, tapi bisa dilihat.
Kok gitu? Bisa dong! Itu bisa dilihat dari diri kalian sendiri, kayak suka ngelamun karena tiba-tiba kepikiran hal yang sedih tapi gak bisa diperbaiki, bingung sendiri: besok mau ngapain tuh gak kepikiran, gak ada bayangan masa depan, semuanya abu-abu dan ketutup kabut.
Aku pernah mengalaminya DAN sedang mengalaminya. Kayaknya aku kurang bersyukur, imanku terjun bebas ke tingkat paling rendah, mirip seperti tenggelam di dasar palung Mariana, palung terdalam di Bumi. Aku berusaha untuk meningkatkan lagi imanku, dengan mulai membiasakan lagi shalat rawatib, baca Al-Qur'an, sholat Sunnah lainnya. Aku juga mulai berbicara ke diri sendiri kalau aku bersyukur masih bisa makan dan jajan enak, bisa minum air putih yang bersih, rumah yang lapang, punya kamar sendiri, aku sehat badannya disaat sekelilingku banyak yang terindikasi wabah penyakit dan beberapa temanku yang dilanda ujian sakit, keluargaku masih lengkap: Ibu, Ayah, kakak dan adik, semuanya sehat, bisa internetan karena ada WiFi di rumah, masih punya saldo di rekening walau tinggal selembar lagi, masih bisa tidur dengan selimut hangat dan kasur, bahkan masih bisa nulis di blog. Gak semua orang punya kenikmatan hidup seperti ini. Ada beberapa orang yang sedang kehilangan orang tersayang, musibah dan bencana alam yang merenggut sebagian kenyamanan hidup yang dirasakan beberapa hari sebelumnya.
Tapi, ternyata psikis bukan berarti kurang iman dan kurang bersyukur. Ada orang-orang yang kurang iman, tapi dia gak menyadari itu dan hidupnya happy. Saking happy-nya dia sampai lupa bersyukur, lupa kalau masih banyak orang yang serba kekurangan dan memimpikan hidup seperti hidupnya, foya-foya, pesta, dan upload kesenangannya sendiri di media sosial dengan dalih 'Self Reward'. Wow, keren banget alibinya untuk tidak disalahkan orang dan dianggap benar.
Aku jadi mafhum dengan beberapa orang yang mengupload keluh kesahnya, curhatannya di akun media sosial miliknya. Barangkali bukan karena tidak punya teman, keluarga, atau orang tersayang. Aku jamin mereka punya kok! Hanya saja, mereka gak punya kehadiran orang-orang itu. Gak ada satu orangpun yang hadir untuknya, sampai dia bingung sendiri: aku harus cerita ke siapa lagi?
Cerita ke Allah dong, cerita ke Tuhan. Dia yang akan selalu bersedia mendengarkan. Aku tahu itu. Dan aku juga yakin beberapa orang sudah bercerita kepada Tuhan. Tapi manusia juga hidup dengan manusia lain. Itu adalah sebuah dorongan alamiah yang gak bisa ditawar lagi. Kayaknya, dia udah hidup sendirian. Maksudku, beneran sendirian, jarang ketemu orang dan ngobrol, sekalinya ketemu yaa cuma ketemu aja, gak lebih gak kurang. That's it! Cuma itu!
Hubungan yang harus dibentuk manusia bukan cuman hubungan transendental aja (dalam Islam disebutnya Hablumminallah) tapi juga hubungan dengan manusia lain (hablumminannas). Gak bisa hanya salah satu aja, nanti jadinya timpang. Dan ketimpangan inilah yang akan mempengaruhi kondisi psikis seseorang, begitu menurutku sih. Menurut kamu gimana?
Aku ngomong gini karena, sekali lagi, aku pernah di kondisi ini dan sedang ada di kondisi ini. Hal yang memicu kondisiku kayaknya media sosial itu sendiri sih. Aku kerap membandingkan diriku dengan teman-teman lewat storygram. Aku mencoba mempertahankan eksistensiku atau ke-ada-an diriku dengan rajin upload storygram juga. Aku ingin bilang: hey, aku masih ada disini! Tapi namanya juga medsos, sekeras apapun aku teriak, gak ada yang denger. Gak ada yang menyadari kondisiku, atau memang semua orang sedang dalam kondisi yang sama dengan teriakan yang sama: hey, aku disini, tolong tanya kabarku, aku sedang gak baik-baik aja!
Aku pernah tiba-tiba ingin nangis, sedih yang sangat mendalam, penyesalan yang datang secepat kejadian memalukan yang melintas di otak. Tapi gak ada airmata yang keluar. Kalian pernah mengalaminya juga?
Aku juga mafhum ketika ada orang lain yang justru lebih cepat merespon kita, dibanding orang-orang yang kita harapkan datang. Gak, mereka gak datang. Bukan karena mereka gak peduli. Lebih karena mereka juga merasa mereka punya masalah yang mungkin lebih berat dari kamu.
Tapi, kok kelihatannya jadi kayak egois ya? Satu sisi ingin diperhatikan, disisi lain tidak mau mendengarkan. Kenapa gak saling bertanya kabar, saling mendengarkan, lalu saling menolong? Bukankah itu jadi sebuah keseimbangan hidup?
Ah, sudahlah! Mungkin setiap orang punya caranya masing-masing untuk berjuang. Jangan menyerah ya! Walau bisikan ingin mati menghentak kepalamu bertubi-tubi, jangan menyerah!



