Awal tahun 2019, aku coba-coba kirim lamaran ke beberapa tempat usaha, online shop, dan UMKM lain. Lalu aku keterima kerja di salah satu travel umroh cabang pembantu di Bandung. Begini ceritanya...
Semuanya berawal ketika aku magang.
Tahun 2018, sekitar bulan Maret, aku mengajukan diri untuk magang di kantor HUMAS kampusku, setelah menagih janji dosenku. Beliau ini adalah kepala HUMAS di kampusku dan dekat dengan rektor. Beliau pernah bilang saat kelas sedang berlangsung - aku lupa mata kuliah apa tapi kalau gak salah Filsafat Komunikasi, I don't know exactly, I'm sorry - kalau pihak universitas mau ngadain program magang di kampus buat mahasiswanya. Programnya ini bakalan dilaksanakan di bagian humas kampus dan jadi program tetap (sebelumnya cuman sekedar program lepas alias humas diperbantukan oleh mahasiswa). Peserta magangnya gak sebatas untuk mahasiswa Ikom aja, tapi juga untuk mahasiswa fakultas lain selagi ada keinginan buat ikutan. Cuman yaa, tetep sih anak Ikom jadi prioritas duluan. Selain itu, juga bakalan ada program magang yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan. Khusus anak Ikom, pihak kampus bakalan buka kran magang dengan pihak media, kayak koran Pikiran Rakyat, harian Jabar Ekspress, atau Galamedia (sebelum kampus dan Galamedia putus hubungan di kemudian hari hehe).
Cuman ya itu tadi, baru wacana dan belum direalisasikan. Nah, anak-anak Ikom yang lain tuh, entah anak Jurnalistik ataupun anak PR terus nagih "janji" Ibu dosen itu tiap kali ada kelas dengan beliau. Bahkan kadang-kadang ada yang nagih saat basa-basi nyapa beliau di kampus.
Berminggu-minggu setelahnya, belum ada kabar kepastian soal program magang ini. Iyaa, semua orang butuh kepastian karena gak mau kena ghosting. Akhirnya, setelah aku cari muka ke Ibu dosen sambil ingetin beliau soal program magang itu, suatu hari beliau kasih kabar ke aku.
Sebelumnya, beliau pernah menggabungkan anak Jurnalistik dan anak PR untuk media visit ke kantor Pikiran Rakyat di Jl. Asia-Afrika. Setelah selesai ngobrol-ngobrol cantik bersama orang Pikiran Rakyat di aula gitu, semua mahasiswa berbondong-bondong keluar, mau pulang, tapi aku ditahan sama Ibu dosen lalu mau diperkenalkan ke seorang jurnalis atau editor (pokoknya orangnya Pikiran Rakyat deh, lupa soalnya). Cuman Ibu jurnalisnya masih ada kerjaan atau apalah gitu, jadi belum bisa ketemu aku. Kalau ketemu sama Ibu dosen sih bisa, soalnya mesti nunggu dulu berapa lama, sementara aku mau pulang dan Ibu dosen mungkin gak enak nyuruh aku nunggu. So, Ibu dosen kemudian menjanjikan padaku untuk mengabariku lewat WhatsApp. Dan benar, aku mendapat chat WhatsApp dari Ibu dosen yang menyuruhku untuk mengirim portofolio tulisan berupa artikel gitu, entah artikel berita, opini atau press release yang pernah aku tulis, ke alamat e-mail Ibu jurnalis itu. Aku kirim lah, kesempatan banget kan. Tapi yaaa... ditunggu-tunggu, engga ada kabar juga. Sampai akhirnya, Ibu dosen menghubungiku dan bilang beliau lagi butuh bantuan aku untuk kerja di kantor humas. Statusnya? Sebagai mahasiswa magang. Uwow! Aku terkejut, makin terkejut lagi karena tawaran ini dikasih karena ke-tidak-enak-kan hati Ibu dosen sebab aku "kayaknya" gak bakalan jadi magang di kantor Pikiran Rakyat. Ya, semacam pengganti.
Jadi lah, aku resmi magang di kantor Humas kampusku terhitung sejak bulan Maret 2018. Oh iya, aku juga ngajak temanku untuk ikutan magang, biar ada temennya dan aku pikir butuh juga anak PR supaya bisa saling menguatkan saat menghadapi tekanan. Istilahnya aku siap untuk under pressure bareng dia. Jadi balance aja gitu, jurnalistiknya ada, public relations-nya pun ada. Ini juga buat ngebantu Ibu dosen supaya gak disebut pilih kasih sama anak-anak. Kok cuman anak Jurnal aja sih yang magang? Kan itu humas, ya harusnya anak PR dong yang magang. Wkwkwk bercanda, itu cuma hasil overthinking-ku aja.
Jadi, apa aja tugas yang aku lakuin selama magang itu?
Oh ya, FYI aku dalam surat keterangan magang tuh secara resmi melakukan magang selama 3 bulan, walau kenyataannya aku baru berhenti setelah acara Job Fair Universitas Langlangbuana 2018 Edisi 3.0 pada bulan November 2018 berakhir. Jadi, bisa dihitung aku terus bolak-balik ke kantor Humas selama 8 bulan.
Oh ya, satu lagi. Ini adalah program magang unpaid. It's okay, aku ngejar pengalaman dan relasi dengan dosenku sih. Cuman rada nyesek juga, saat Kepala Humas kampus diganti oleh Bapak dosen, program magangnya jadi dibayar. Kan lumayan, bisa dipake buat keperluan ngerjain skripsi waktu itu. Tapi ya sudahlah, setidaknya aku sudah meninggalkan jejak karyaku untuk kampus. Apa itu?
Akun Instagram resmi kampus
https://www.instagram.com/universitaslanglangbuana
Silahkan mampir kalau berkenan :D
Sebenarnya, kampus pernah punya akun instagram juga dan dikelola oleh mahasiswa magang, kalau gak salah sama mahasiswa Ilmu Pemerintahan satu angkatan di atasku. Cuman ya, gak aktif lagi setelah si Akang tersebut hengkang dari dunia permagangan kampus. Jadi, aku dan temanku waktu itu punya program Pengembangan Branding Kampus Melalui Sosial Media. Ceilah, udah mirip judul skripsi aja.
Waktu itu, rencananya mau bikin akun Line, Fanpage Facebook, dan Instagram. Tapi, setelah riset sana-sini, ternyata kampus tuh udah punya Fanpage Facebook. Cuman lagi-lagi kurang aktif. Oke, kami memutuskan untuk menunggu kepastian dari Ibu dosen apakah mau melanjutkan keaktifan Facebook atau bikin baru lagi. Selama masa menunggu itu, kami memutuskan untuk membuat akun instagram baru, karena akun instagram yang lama (yang tadinya mau kami lanjutkan atau reaktifasi) ternyata gak ada yang tau password-nya. Hanya admin lama-lah satu-satunya orang yang tau password-nya. Ini fatal! Fatal banget, karena akun instagram kampus itu adalah media informasi bagi kampus, harusnya segala informasi tetek bengeknya dikasih ke penanggungjawab (dalam hal ini staf humas misalnya) atau ditulis di sticky notes dan di tempel di dinding ruang staf humas. Mudah-mudahan hal kayak gini gak terjadi lagi yaa... Maka dari itu, aku dan temanku selalu mengingatkan Ibu dosen soal masalah password ini. Dan diakhir masa tugas kami sebelum purna tugas, Ibu dosen akhirnya ingat dan minta dituliskan alamat e-mail dan password yang digunakan untuk akun instagram UNLA.
Bikin akun instagram baru, artinya kami harus bikin email kampus yang baru. Kami juga memposting konten instagram pertama yaitu brosur PMB UNLA Tahun Akademik 2018-2019. Masih ada sampai sekarang, kalian bisa cek kalau penasaran ya!
Berikut konten yang diposting di akun Instagram Unla saat aku bertugas.

Ini adalah postingan pertama :)

Nah, ini foto setelah siaran berakhir. Gak perlu dijelasin lagi ya, di radio mana kami siaran :)

Nah, kalau foto ini diambil saat pelaksanaan tes interview calon mahasiswa baru. Aku ambil sendiri fotonya pakai kamera DSLR Canon 100D.
Waktu itu, si dia, temenku mahasiswa PR punya ide. Katanya karena ini kan akun instagram resmi kampus, jadi mending gak usah follow siapapun. Jadi, guys waktu awal terbit, akun instagram Unla followingnya 0 alias gak follow akun apapun.
Tapi setelah kami purna tugas dan Ibu dosen sudah tidak lagi menjabat Kepala Humas kampus (karena pindah jadi ngurusin rektorat kampus), kebijakannya berubah. Aku lihat akun instagram kampus sudah berkembang (inget banget kami berhasil mengumpulkan 1000-an lebih followers berkat pengumuman yang kami sebar dan tempel di mading tiap fakultas supaya follow akun instagram Unla wkwkwk alhamdulillaah) dan tidak lagi 0 following-nya, sudah follow akun lain.
Nah, selain bikin akun instagram kampus yang baru, aku juga dapet ide setelah berselancar ria, ngunjungi akun instagram kampus lain di luar negeri. Kayak UCL, Harvard, Stanford, Kings' College London, Oxford sampai Birmingham University. Ada satu hal yang mereka punya dan jadi ciri khas, sementara kampusku belum punya. Apakah itu? Coba lihat dan perhatiin dulu gambar dibawah ini, deh!
Kalian sadar gak sih dari foto di atas, kampus-kampus di luar negeri tuh punya semacam Student Ambassador dan merchandise kampus berupa kaos berlogo dan berwarna kampus. Nah, aku dan temenku pernah diskusiin ini berdua. Kayaknya seru ya, kalau kampus punya program duta mahasiswa gitu yang tugasnya memperkenalkan keunggulan kampus ke adek-adek maba maupun ke masyarakat umum.
Eh gak taunya, setelah aku purna tugas, pihak kampus udah bikin kaos Unla yang kece banget buat KKNM tahun 2019. Ini kaosnya keren banget soalnya, beda sama kaos punya angkatan aku setahun sebelumnya (kayak kaos partai wkwkwk). Kalo soal kaos KKNM, sebenarnya aku pernah ditugasin sama Bapak Kemahasiswaan buat bikin desain kaos. Desain yang aku bikin tuh modelnya polo shirt gitu dengan warna biru tua atau navy, rada mirip sama kaos dibawah ini. Tapi gak di acc. Mungkin mereka terinspirasi sama desain buatan aku kali ya? Wkwkwk
Terus aku juga sempat kepikiran buat bikin video promosi tiap fakultas. Nah, orang yang aku wawancarai itu Dekan Fakultas (oke ini ketinggian) atau ketua BEM fakultas. Kalau kalian lihat akun instagram-nya Stanford atau Loughborough, mereka itu aktif banget posting video penjelasan tentang apa aja yang dipelajari di suatu fakultas atau sekedar jurnal keseharian mahasiswa, misalnya jurnal keseharian mahasiswa hukum di kampus. Itu keren banget!!! Tapi sayang, yang ini cuman sampai batas wacana aja. Udah sempet diobrolin kok sama Ibu dosen, dan Ibu dosen juga setuju. Tinggal bikin surat tugas atau name tag gitu sebagai identitas aku dan temenku sebagai staf humas magang. Bahkan kami udah mulai minta izin. Waktu itu kami ngedatengin studionya anak arsitektur dan ketemu sama salah satu dosen disitu. Kami ngejelasin maksud kami buat ngerekam kegiatan belajar mengajar anak arsitektur. Tapi kepotong sama persiapan Job Fair yang kedua. Dan kepotong lagi sama proposal skripsi dan bimbingan. Yaaah, akhirnya tidak jadi terealisasikan. Aku harap ada yang punya ide yang sama kayak gini.
Oh ya, selama aku magang, kami ditugaskan untuk menjadi panitia inti acara Job Fair kampus sebanyak 2 edisi. Edisi pertama (2.0) dilaksanakan pada bulan Juli 2018. Itu tuh edisi coba-coba sebenarnya. Jadi Bapak Wakil Rektor (udah resign karena suatu hal) keidean ingin bikin program serapan tenaga kerja untuk mahasiswa lulusan kampus. Sebelumnya pernah bikin acara serupa tapi dalam lingkup yang lebih kecil dan jumlah perusahaan yang berpartisipasi pun engga terlalu banyak alias sedikit, masih bisa dihitung jari tangan lah. Nah, beliau bersama bawahannya yang adalah Kepala Kemahasiswaan gitu (aku lupa jabatan Bapak ini apa wkwkwk, karena ada di gedung yang sama dengan kantor Humas saat itu. Kalo sekarang udah pisah, kantor humas pindah ke bawah disebelah ATM center) ingin program ini jadi program tahunan buat mahasiswa kampus.
Setelah selesai Job Fair edisi 2.0 beres, bulan Agustus 2018 kami langsung ke Pangandaran buat ngerjain program KKNM. Aku ditempatin di Dusun Parapat, sementara temenku itu ada di Dusun Pangandaran. Kami berdua sama-sama ada di Desa Pangandaran selama 40 hari. Terus gimana dengan instagram Unla? Kami tetep aktif, memposting feed dan story kegiatan KKNM, ditambah lagi aku me-repost postingan akun KKNM mahasiswa lain yang bertugas di beberapa desa di daerah Purwakarta, Kabupaten Bandung (yang pedalamannya). Gituuu... Ditengah kegiatan KKNM, aku juga dibikin pusing sama proposal skripsi yang belum jadi jadi. Sementara orang udah ada yang jadi, ada yang udah nentuin judul, topik, sampe nentuin mau pakai studi apa (interaksi simbolik kah? fenomenologi kah? atau apa?)
Akhirnya, setelah 40 hari disana dengan berbagai drama yang menyertainya, aku pun pulang ke rumah. Udah bisa santai? Oh, tidak begitu, Ferguso! Masih ada proposal skripsi yang mesti dikerjakan. Ditambah, begitu aku kembali ke kampus, Bapak Kemahasiswaan itu menagih kami untuk menyelesaikan tugas sebagai panitia inti acara Job Fair kedua kalinya, alias terakhiran. Ya ampun, capek :(
Bersambung...














