Menjelang akhir bulan Ramadhan, kepolisian sektor Regol makin aktif
menertibkan lalu lintas di kawasan Jalan Asia-Afrika. Hal ini untuk
mengantisipasi kemacetan yang menumpuk di kawasan wisata ini menjelang mudik
dan libur lebaran.
Kawasan Asia-Afrika Kota Bandung memang punya banyak daya tarik
bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Ada Alun-Alun Kota Bandung dan
Masjid Agung, Museum Asia-Afrika, dan juga Jalan Braga yang telah lama menjadi
wisata arsitektur sekaligus ikon kota Bandung.
Jalan Asia-Afrika setiap harinya memang selalu penuh dengan
kendaraan. Tak jarang menimbulkan kemacetan. Malam minggu dan hari libur
merupakan waktu saat volume kendaraan membludak. “Kemacetan sering terjadi
disaat seperti itu”, jelas Briptu Suraji (49), petugas satlantas Polsek Regol
saat ditemui disela-sela pekerjaannya di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung,
Minggu (11/6/2017).
Bubaran sekolah dan kantor, sekitar pukul 6 hingga 9 pagi yakni
waktu para karyawan berangkat kerja, dan sejak pukul 15.30 hingga magrib merupakan
waktu dimana kemacetan terjadi karena banyaknya volume kendaraan yang melewati
kawasan ini.
Sebagai langkah antisipasi saat
mudik lebaran tiba, Kepolisian Sektor Regol akan mengadakan rekayasa lalu
lintas. Yaitu di sekitar Jalan Asia-Afrika memutar dan berakhir di Jalan
Otista.
Kawasan Asia-Afrika ini dulunya
tempat yang sangat ramai dengan pedagang kaki lima dan parkir liar. Kedua hal
tersebut merupakan pemicu kemacetan lama. Namun sejak Pemkot Bandung
memindahkan para PKL, Polsek Regol dan satpol PP Kota Bandung juga menertibkan
parkir liar. Namun, kawasan ini kembali macet dengan hadirnya tukang parkir
liar yang masih bertahan. “Parkir liar itu sudah ditertibkan, tapi kembali lagi
kesini karena masalah ekonomi.” Jawab Suraji mengakhiri.
Keterangan
tulisan
·
Jenis tulisan :
Berita
·
Tema tulisan :
Sosial
·
Jenis foto jurnalistik :
General News Photo
·
Segmen tulisan :
Sosial
Keterangan
foto
·
Waktu :
11 Juni 2017 2:11 PM
·
Tempat :
Jalan Asia-Afrika Kota Bandung
·
Jenis kamera :
DSLR Canon EOS 100D
·
Exposure time :
1/800 sec
·
ISO speed :
ISO-1600
·
f/number :
f/16
Pola
sumber informasi
·
Wawancara langsung
·
Foto diambil sebelum artikel ditulis.
Menjelang Mudik, Asia-Afrika Bersiap Untuk Rekayasa Lalu Lintas
Kawasan Alun-Alun Bandung kini telah menjadi daya tarik tersendiri
bagi masyarakat. Dulu, kawasan yang penuh dengan pedagang kaki lima ini
terlihat kotor dan tak beraturan. Macet pun tak dapat dihindari akibat dari
kegiatan jual-beli yang memenuhi bahu jalan. Tapi kini, hal itu tak akan
ditemui lagi.
Pemerintah Kota Bandung berhasil menertibkan pedagang kaki lima
sekaligus sukses dengan pemugaran taman alun-alun.
Namun, program tersebut berdampak pada hal lain. Zamaluddin (54) warga
Desa Melong, Kota Cimahi, yang dulunya berprofesi sebagai pedagang kaki lima
sudah tak bisa berjualan lagi. Saran pemkot bandung yang memindahkan para PKL
ke kawasan tertentu tak ia ikuti. Selain karena tak punya biaya lebih untuk
menyewa kios, alasan lain karena sepinya jumlah pengunjung, sehingga berakibat
pada penghasilannya. Ia pun pindah profesi.
Sekitar bulan April lalu, ia pindah profesi menjadi badut di
kawasan car free day Alun-Alun. “Penghasilan yang didapat memang tidak menentu.
Kalau sepi, biasanya hanya dapat Rp 50.000. Bisa dua kali lipat kalau sedang
ramai”, ungkapnya saat ditemui di kawaasan car free day Alun-Alun, Minggu
(11/6/2017) lalu.
Zamaluddin tak sendiri. Ia bersama badut lain tergabung dalam
komunitas perkumpulan badut Alun-Alun. Komunitas ini menguasai kawasan Alun-Alun.
Berbeda dengan badut yang ada di Jalan Asia-Afrika. “Kami beda komunitas. Jadi
yang di Asia-Afrika itu ada komunitas lain juga. Disini kami semuanya dibawah
komunitas yang sama.” Jelas Zamaluddin lagi.
Bila dibandingkan profesinya terdahulu sebagai pedagang kaki lima,
Zamaluddin mengakui bekerja sebagai badut punya untung lebih besar.
Ia juga menambahkan, badut telah menjadi ciri khas yang mampu
menarik wisatawan untuk datang dan berlama-lama disini. Pengunjungnya beragam,
kebanyakan adalah anak kecil yang malu-malu minta berfoto bersama. “Senang
saja, walau capek, tapi melihat tingkah anak-anak mengingatkan saya sama
cucu-cucu saya di rumah.”
Keterangan
tulisan
·
Jenis tulisan :
Artikel
·
Tema tulisan :
Hiburan
·
Jenis foto jurnalistik :
Feature Photo
·
Segmen tulisan :
Usia
Keterangan
foto
·
Waktu :
11 Juni 2017 6:25 PM
·
Tempat :
Car Free Day Alun-Alun Bandung
·
Jenis kamera :
DSLR Canon EOS 100D
·
Exposure time :
1/6 sec
·
ISO speed :
ISO-3200
·
f/number :
f/5
Pola
sumber informasi
·
Wawancara langsung
·
Foto diambil sebelum artikel ditulis.
Badut Jadi Daya Tarik Alun-Alun
Ada banyak jalan menuju Roma. Peribahasa tersebut sepertinya cocok
dengan pengalaman mahasiswa satu ini untuk menggapai mimpinya kuliah ke luar
negeri. Mayesti Akhriani menceritakan pengalamannya menempuh berbagai jalan
untuk bisa sukses kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Statusnya sebagai
mahasiswa pascasarjana University College London dan penerima beasiswa LPDP,
merupakan bukti kerja kerasnya.
Berawal dari cita-citanya bersama teman sekelas semasa SMA, Maya –
panggilan akrabnya – kini berhasil menjejakkan kakinya di tanah Ratu Elizabeth.
Alumnus Jurusan Ilmu Gizi Universitas Brawijaya ini awalnya berkeinginan untuk
melanjutkan studinya di Turki. Namun karena beberapa hal, akhirnya ia mencoba
mendaftar ke Wageningen University di Belanda. Tapi langkahnya sempat terhenti
karena pendaftaran sudah ditutup sementara ia belum mempunyai sertifikat IELTS.
Dari pengalamannya itu, Maya menyimpulkan bahwa IELTS adalah salah satu syarat
paling penting untuk mendaftar ke universitas luar negeri, terutama di
negara-negara Eropa.
Untuk urusan penguasaan bahasa Inggris, Maya yang pernah mengenyam
pendidikan di SMA N 1 Soreang Kabupaten Bandung ini sudah mengikuti kegiatan
ekstrakulikuler ECC (English Conversation Club) sejak SMA. Saat di bangku
kuliah, Maya mendapat skor TOEFL ITP 490, angka yang terbilang kecil untuk bisa
kuliah ke luar negeri. Setelah lulus, Maya pun mencoba mengikuti preparation
IELTS selama 3 bulan di kampung Inggris di Pare.
Ia tak pantang menyerah. Sekembalinya ke Bandung, Maya tetap
melanjutkan les bahasa Inggris agar kemampuannya tersebut makin terasah.
Belajar dari pengalaman pertamanya yang gagal mendaftar ke universitas luar
negeri karena belum memiliki sertifikat IELTS, Maya menargetkan dirinya
mendapatkan skor IELTS tinggi pada tahun 2016.
Untuk
berkuliah di Inggris, Maya tak mengeluarkan biaya sepeser pun alias gratis. Ia
merupakan awardee LPDP, sebutan bagi mahasiswa penerima beasiswa Lembaga
Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementrian Keuangan.
Mayesti Akhriani didepan BigBen, London, UK. (sumber:akun instagram
Mayesti Akhriani)
Maya merupakan sedikit dari banyak mahasiswa yang menjadi pemburu
beasiswa. Awal pencariannya dimulai ketika pihak kampus mengadakan seminar
beasiswa. Maya tercatat pernah mengikuti seminar tersebut sebanyak 2 kali. Pada
2013, Kemenkeu membuka pendaftaran beasiswa, yang lebih dikenal dengan nama
LPDP. Namun rasa tidak percaya diri menghinggapi Maya karena tak punya
sertifikat IELTS dan kemampuan bahasa Inggrisnya juga belum mumpuni. Akhirnya
ia urung untuk mendaftar.
Maya mulai mencari tahu lebih lanjut tentang beasiswa LPDP. Mulai
dengan menanyakan langsung tentang pengalaman dari para awardee
sebelumnya hingga rajin mengunjungi website resmi LPDP. Menurutnya, informasi
yang didapat jauh lebih akurat karena bersumber langsung dari para awardeenya
itu sendiri.
Setelah lulus dan mendapat skor IELTS yang cukup pada 2016 lalu,
Maya mantap mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Tak disangka,
akhirnya Maya pun lolos dan terbang ke Inggris pada awal 2017 lalu.
Untuk mendapatkan beasiswa ini haruslah mempunyai dampak positif
untuk orang banyak setelah lulus kuliah nanti, begitu penjelasan Mokhamad
Mahdum selaku Direktur LPDP saat dirinya memberikan ceramah pada seminar LPDP
Edu Fair 2017 di Bale Sawala Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Rabu
(17/05/2017).
Beasiswa LPDP adalah dana beasiswa yang dialokasikan dari pajak
rakyat Indonesia, sehingga sangat pantas bila kontribusinya juga dikembalikan
kepada masyarakat. Oleh karena itu, Mahdum selalu mengingatkan para awardee,
khususnya yang berkuliah di luar negeri, untuk kembali pulang ke Indonesia dan
membangun negara ini agar lebih maju.
Beberapa strategi pun ia berikan kepada hampir 500 orang yang hadir
menyesaki Bale Sawala. Yaitu merubah cara pikir dan sukses bersama. Ia juga tak
lupa memberikan mantra jitu untuk bisa lolos beasiswa dan kuliah ke luar
negeri. “Man jadda wajada”, ujarnya bersemangat.
Keterangan
tulisan
·
Jenis tulisan :
Artikel
·
Tema tulisan :
Pendidikan/Edukasi
·
Jenis foto jurnalistik :
Feature Photo
·
Segmen tulisan :
Usia
Keterangan
foto
·
Waktu :
18 Juli 2017 8:17 AM
·
Tempat :
Indoor
·
Jenis kamera :
DSLR Canon EOS 100D
·
Exposure time :
1/30 sec
·
ISO speed :
ISO-3200
·
f/number :
f/5
Pola
sumber informasi
·
Wawancara – telephone interview
·
Foto diambil setelah tulisan selesai dibuat.
Jalan Lain Menuju Inggris
Minggu, 30
April 2017
Puluhan
Angkutan Kota (Angkot) Jurusan Soreang-Banjaran di Terminal Pasar Soreang
Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, hari
Kamis (27/4/2017) menggratiskan ongkos bayar angkutan kota (angkot)
Soreang-Banjaran. Puluhan angkot jurusan Soreang-Banjaran mulai beroperasi
gratis pada pukul 08.00-18.00.
Angkot gratis tersebut merupakan salah satu
langkah pemerintah Kabupaten Bandung untuk meningkatkan kembali minat
masyarakat agar mau memanfaatkan transportasi umum. Dan juga sebagai langkah
awal mengurai kemcetan.
Hal ini dikarenakan, masyarakat lebih
banyak memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi sehingga menimbulkan
kemacetan panjang setiap harinya. Selain itu, bertumbuh pesatnya layanan
transportasi online pun dituding sebagian pihak sebagai penyebab merosotnya
pendapatan sopir angkutan konvensional, termasuk angkot. Sehingga berimbas pada
jumlah penumpng.
Berkaca pada aksi demonstrasi menolak
transportasi online di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (9/3/2017) yang lalu,
semestinya dapat dijadikan bahan renungan bagi pemerintah dan sopir angkot,
termasuk pihak pengelola itu sendiri untuk memperbaiki layanan transportasi.
Masyarakat saat ini bukan sudah tidak
memerlukan angkot lagi. Mobilitas yang cepat, kesibukan yang padat setiap
harinya, ditambah masalah kemacetan, membuat masyarakat memerlukan moda
transportasi yang cepat, instan, dan efektif. Ketimbang menaiki angkot yang
selalu ngetem, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan jasa
transportasi online karena dinilai lebih cepat.
Menggratiskan ongkos bayar angkot tanpa
adanya perbaikan layanan dari pihak sopir, pengelola, dan pemerintah, bukanlah
langkah efektif dalam mengurai kemacetan. Ketimbang saling menyalahkan, akan
lebih efektif bila semua pihak menyadari kekurangannya dan bekerja sama
memperbaiki kekurangan tersebut.
Keterangan
tulisan
·
Jenis tulisan :
Berita
·
Tema tulisan : Sosial, Ekonomi
·
Jenis foto jurnalistik :
Single Picture
·
Segmen tulisan :
Sosial
Keterangan foto
·
Waktu :
30 April 2017 2:34 PM
·
Tempat :
Terminal Pasar Soreang, Kabupaten Bandung
·
Jenis kamera :
Canon EOS 100D
·
Exposure time :
1/100 sec
·
ISO speed :
ISO-400
·
f/number :
f/11
Pola sumber informasi
·
Pengembangan berita sebelumnya
·
Tulisan dibuat terlebih dahulu sebelum foto.
Angkot Gratis, Bukan Solusi
Bupati Bandung, H Dadang M Naser
sedang menyalami peserta yang mendapat hadiah umroh gratis
Euforia perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bandung ke-376 dirasakan oleh warga Kabupaten Bandung yang menyesaki area halaman Stadion Si Jalak Harupat, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Sabtu (8/4/2017). Dalam rangka hari jadi yang jatuh pada 20 April, pemerintah Kabupaten Bandung menggelar rangkaian kegiatan yang sudah dimulai sejak Sabtu (8/4/2017) hingga direncanakan selesai pada 5 Mei mendatang.
Acara yang diberi nama “Jalan Sehat
Sabilulungan” ini dipanitiai oleh Dinas Pemudan dan Olahraga Kabupaten Bandung,
dengan tujuan sebagai sarana silaturaim antar warga Kabupaten Bandung. Seperti
yang dikemukakan Bupati Bandung, H Dadang M Naser kala menyapa warga diatas
panggung di area halaman stadion Si Jalak Harupat.
Jalan Sehat
Sabilulungan ini diikuti perwakilan dari setiap satuan kerja perangkat daerah
(SKPD), instansi dan pelajar. Start dimulai
di Sport Center Si Jalak Harupat, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung
dilepas langsung oleh Bupati Dadang M Naser. Rute yang ditetapkan melalui Desa
Jatisari, Desa Cibodas, Desa Kutawaringin, Desa Kopo, dan finish di Si Jalak
Harupat.
Kedatangannya ke lokasi acara disambut
meriah oleh para peserta dan warga yang datang. Kemeriahan bertambah saat
Dadang, sapaan akrabnya, secara pribadi memanggil 5 orang peserta yang menang
undian. Hadiah yang diberikan Kang Dadang bukan berupa barang, melainkan tiket perjalanan
umroh gratis.
Dadang mengungkapkan, rangkaian acara
perayaan HUT Kab. Bandung akan berfokus pada olahraga, yang juga akan diadakan
di pusat olahraga stadion Si Jalak Harupat. Selain itu, Pemkab Bandung melalui
Kamar Dagang Indonesia (Kadin) juga akan menggelar Sabilulungan Fair 2017.
Seperti diwartakan Jabar Ekspres, Ketua Kadin Kabupaten Bandung, H Ferry Sandiyana
SE mengatakan bahwa kegiatan itu adalah salah
satu penopang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selain hadiah umroh, panitia Jalan Sehat
Sabilulungan juga telah menyiapkan berbagai hadiah menarik lainnya sebagai
pemanis. Acara kemudian ditutup setelah kupon undian terakhir diumumkan. Untuk
memeriahkan acara, panitia juga mengundang artis sinetron Preman Pensiun
sebagai bintang tamu sekaligus pembawa acara.
Keterangan tulisan
·
Jenis tulisan :
Berita
·
Tema tulisan :
Politik, Sosial
·
Jenis foto jurnalistik :
General News Photo
·
Segmen tulisan :
Sosial
Keterangan foto
·
Waktu :
8 April 2017 11:50 AM
·
Tempat :
Stadion Si Jalak Harupat, Kutawaringin, Kabupaten Bandung
·
Jenis kamera :
Kamera Handphone Smartfren Andromax A16C3H
·
Exposure time :
1/531 sec
·
ISO speed :
ISO-50
·
f/number :
-
Pola sumber informasi
·
Reportase
·
Foto diambil terlebih dahulu, baru kemudian dibuat
tulisannya.



