![]() |
| Puluhan polybeg bibit kurma yang siap tanam |
Kurma merupakan tanaman yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dan
sudah tersebar ke segala penjuru dunia. Kurma juga
tanaman buah yang multi fungsi dan tak lekang oleh zaman, sehingga kurma dikategorikan
sebagai tanaman ‘Akhir Zaman’.
Namun, kurma baru
beberapa dekade terakhir ini menjadi perhatian dari
masyarakat Indonesia. Dikenal sebagai tanaman khas beriklim
gurun, kurma ternyata bisa tumbuh di daerah beriklim tropis. Tepatnya di
kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung terdapat puluhan polybeg berisi
bibit pohon kurma yang tertata rapi. Adalah Ade Sumarna (56 tahun), seorang PNS
di wilayah kecamatan Soreang yang merupakan pemilik lahan pembibitan kurma
tersebut.
Kurma biasanya tumbuh subur didaerah gurun
yang notabene adalah dataran rendah bersuhu kering. Namun Ade berhasil
membudidayakan kurma di lahan miliknya yang berada tepat dibelakang kantor
Polres Bandung, yang juga merupakan daerah dataran tinggi. Bila diukur
menggunakan altimeter, wilayah Soreang berada 707 m diatas permukaan laut
dengan suhu rata-rata 10′ C- 20′ C.
Ade menjelaskan awal mulanya ia tertarik
untuk melakukan budidaya kurma pada bulan Ramadhan tahun 2015. “Saat itu saya
melihat banyak postingan di media sosial yang menunjukkan tanaman ini mampu
beradaptasi di daerah tropis. Umumnya kurma tumbuh secara tidak sengaja dari
biji yang buahnya dibawa oleh para jamaah haji, ada juga yang tumbuh dari biji
yang terbuang di sekitar masjid, pesantren dan ada juga yang tumbuh di halaman
rumah.” Imbuhnya.
Lulusan
ilmu kehutanan ini pun berinisiatif melakukan percobaan untuk menanam biji kurma.
Awalnya ia mengalami kegagalan, seperti biji yang ditanam tak kunjung tumbuh,
tumbuh tunas tapi tidak berkembang lalu mati, dan berbagai macam kegagalan
lainnya. Namun ia banyak belajar dari kegagalannya itu, hingga akhirnya
percobaannya pun berhasil. Biji yang ia tanam menumbuhkan tunas baru, lalu
berkembang hingga menjadi bibit dengan tinggi 30 cm.
“Awalnya saya mengambil biji dari buah
kurma yang dijual di pasaran. Biji itu lalu saya rendam semalam untuk
menghilangkan lapisan selaputnya, supaya bersih. Setelah itu baru saya tanam di
polybeg.” Katanya sambil menjelaskan proses budidaya kurma miliknya.
Kini, usaha pembibitannya sudah berjalan
hampir 2 tahun. Untuk mempromosikan bibit kurma miliknya, ia memanfaatkan media
sosial. Teman-teman kuliahnya banyak yang tertarik dan akhirnya membeli.
Beberapa rekan kerjanya di wilayah dinas Kabupaten Bandung pun ikut tertarik.
Satu bibit kurma dihargai antara 200 – 500 ribu rupiah. Kini, bibit kurmanya
sudah tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat. Meski belum tersebar luas,
namuan Ade berharap usahanya ini bisa sukses dan besar.
Di wilayah Bandung dan sekitarnya, budidaya kurma memang belum dianggap komoditas prospektif secara ekonomis finansial.
Secara perlahan dan pasti, tanaman ini dilirik sebagai tanaman hias di mesjid,
perumahan, hotel, pusat bisnis, perkantoran. Pada masa mendatang, mungkin saja
dalam skala bisnis ada yang menggarap komoditas ini, seperti dirinya. iHADEcf –
nama usaha pembudidayaannya – meski bukan sebagai pioner di bidang ini, namun
berupaya menyediakan bibit kurma yang berlokasi di Soreang.
Ade juga menambahkan bahwa ia telah menanam
satu bibit pohon kurma didepan halaman kantor Bupati Bandung di Komplek PEMKAB
Bandung. “Mungkin saja kalau bibitnya tumbuh dengan bagus, nantinya akan
dilirik oleh Bupati.” Jelas Ade mengakhiri. (Vidya Aulia)







