Kehidupan ini bagai roda yang berputar. Tentu kita semua tahu bahwa tak selamanya seseorang terus berada dipuncak kejayaan, karena suatu saat ia juga akan kembali ke titik nadir paling rendah dalam hidupnya, kalau tak mau disebut sengsara.
Inilah saat krusial bagi seseorang, atau boleh dibilang titik balik kehidupan, mau melanjutkan hidup dengan berbagai tantangan yang kelak akan dihadapi, ataukah menyerah begitu saja, membiarkan hidup mengalir begitu adanya, seperti daun yang pasrah dibawa arus air: berkelak-kelok, naik-turun, menabrak bebatuan sungai, melewati air kotor, hingga bermuara ke laut lepas. Dan takkan ada yang menyadari kemana saja perginya daun itu. Semua sepakat, daun itu akan bermuara ke laut. Sama seperti semua orang sepakat bahwa manusia pada akhirnya akan mati. Tanggal expired-nya sudah habis. Ia telah kadaluarsa.
Menyerah tentu bukanlah solusinya. Pun begitu dengan diam ditempat. Tak berani untuk melakukan tantangan dan tak mau keluar dari zona nyaman. Baginya, cukuplah hidup apa adanya, tak perlu mencari lagi, karena mungkin ia telah nyaman dengan apa yang dipunya. Ketakutan akan kehilanganlah yang membuat sebagian dari kita tak mau bergerak. Ia bagai hidup dalam tempurung kelapa, nyaman dengan kegelapan, tapi tak pernah tahu indahnya kehidupan diluar tempurung kelapa itu. Padahal semestinya kita mencontoh pada ikan salmon. Ia pergi mengarungi lautan samudera, keluar dari zona nyamannya yakni tempat dimana ia pertama kali hidup bersama ratusan saudaranya. Ia juga tak pantang menyerah ketika akan kembali ke tempatnya semula, walau resiko kematian harus ia hadapi. Kenapa ikan salmon begitu ngotot untuk pulang? Padahal ia bisa saja pergi ke laut dan tak pernah kembali. Alasannya adalah ia tak mau egois, ia ‘memikirkan’ keberlangsungan hidup keturunannya. Walaupun ikan salmon tak punya akal, namun ia diberi intuisi.
Bagaimana dengan manusia? Ia diberi kelebihan yang lengkap, akal dan intuisi. Apakah keduanya dipergunakan? Bila sudah mengambil langkah untuk keluar dari zona nyaman, babak selanjutnya ialah menghadapi tantangan berupa masalah. Masalah ada bukan untuk dibiarkan, tetapi untuk dipecahkan. Caranya adalah dengan berpikir, mencari solusi terbaik, lalu mengambil keputusan dan masalah terpecahkan. Apakah semudah itu? Tidak juga. Proses berpikir itu lama, memerlukan waktu lebih banyak. Seperti yang tergambarkan pada patung The Thinker karya Auguste Rodin. Patung itu adalah simbol filosofis manusia yang memiliki kecenderungan untuk berpikir. Ia merenungkan segala sesuatu yang terlintas pada inderanya.
Hasil perenungan itu tidak didapatkan dengan mudah. Layaknya kita sedang meminum kopi panas, kita tak akan pernah tahu manisnya kopi bercampur gula bila tak sabar menunggu kopi menjadi hangat. Pun begitu, sesuatu yang didapatkan melalui kerja keras akan dirasa bangga oleh diri sendiri.
Disini kata kuncinya adalah proses. Proses diperlukan untuk menempa kesabaran seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Proses pun tak selamanya diiringi dengan kemudahan, ia juga diiringi kesulitan. Layaknya kopi hitam yang pahit sekaligus manis. Kedua rasa itu akan selalu terasa beriringan dilidah.
Lalu bagaimana bila seseorang tetap mengalami kesulitan setelah proses itu selesai? Berarti proses itu belum selesai dan tak akan pernah berhenti sampai masa aktif hidup kita yang berhenti. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah bertahan. Mari berguru pada bunga teratai! Ia tumbuh dalam kolam yang airnya kotor dan keruh. Tetapi saat kuncup bunganya mekar, bukan saja indah bunganya, ia juga bermanfaat bagi makhluk lainnya, salah satunya menjadi tempat lompatan katak. Bertahan dengan banyak rintangan yang ada dan tak terpengaruh dengan persangkaan banyak orang – karena belum tentu benar – mungkin memang akan membuat kita berbeda. Tapi apa salahnya menjadi berbeda? Berbeda itu unik, bukan? Seperti teratai, ia berbeda dengan bunga lainnya. Asalkan menjadi berbeda yang tak keluar dari lingkaran fitrah manusia.
Kita perlu mimpi untuk membuat kita bergerak. Kenapa? Nidji pernah menjawabnya, bahwa mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia. Jangan dulu terlalu jauh untuk menaklukan planet bumi ini, cukup taklukan saja dunia kita, yakni hawa nafsu yang didalamnya terdapat rasa malas.
Begitupun dengan kenyataan yang berawal dari mimpi. Mimpi itu semu, akan menjadi nyata bila ada usaha yang mengiringinya. Layaknya ketika kita akan menyeduh secangkir kopi hangat. Tambahkan sesendok rasa bertahan, lalu sesendok rasa tak menyerah dan tuangkan secangkir kesabaran, aduk rata. Dan cicipilah secangkir mimpi yang telah menjadi nyata!







0 komentar