Kantor itu terlihat ramai, dipadati oleh para pencari kerja. Pagi sudah beberapa jam lalu menyapanya, namun siang belum kunjung tiba. Awan di atas langit yang biru makin mencerahkan suasana hatinya yang gugup. Ini kali ketiga dia dipanggil untuk wawancara kerja. Sudah hampir empat bulan dia menganggur, baru dua kali dia melakukan wawancara kerja, dan sebanyak apapun lamaran yang telah dia kirim, baru kali ini dia sangat mengharapkan wawancara kali ini berhasil. Penampilannya segar, kemejanya rapi, badannya wangi parfum, sepatunya hitam legam yang berkilau, dan tangannya mendekap amplop coklat sambil melirik-lirik memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Pandangannya lalu tertumpu pada sesosok perempuan muda yang jarang sekali dia lihat. Putih berseri dengan garis wajah sedikit mengantuk. Tapi sekali lagi, tak menghalangi rona wajahnya yang jelita. Perempuan ini bukan perempuan Jogja ataupun tipikal perempuan Jawa lainnya yang biasa ia lihat sehari-hari. Dia bahkan tidak ingat kapan kali terlahirnya bertemu perempuan Jawa seputih ini. Lantas ia tersenyum ketika perempuan itu menyadari sedang ditatap olehnya.
"Saya Abadi. Mbak ini bukan orang Jogja toh? Beda soalnya, cantik!"
Perempuan itu tersenyum setengah hati menanggapi ocehan Abadi.
"Dari Bandung." Jawabnya singkat.
"Owalaaah, pantas ndak ada mirip-miripnya sama cewek Jogja. Kok jauh-jauh datang kesini? Oh bukan, pasti mbaknya kuliah di Jogja ya?"
Sekali lagi Abadi mengganggu lamunan perempuan muda itu.
Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum paksa. Barangkali ia memaksa dirinya untuk bersikap ramah, walau sebenarnya tak mau. Abadi tak ambil pusing, ia terus dibuat penasaran oleh gadis muda diseberangnya.
"Gak pernah kuliah disini, cuman pernah ikut tes masuk aja."
Abadi mengangguk takjub. "Saya lulusan UMY, tau toh? Pasti tau lah, kampus saya lumayan terkenal kekekeke."
Perempuan muda itu mengangkat alisnya setelah mendengar ucapan Abadi. Dia mengangkat tangan kanannya, menutup mulutnya, menghalangi suara tawa keluar dari sana. Abadi terus tertawa, sementara perempuan muda itu menahan tawa.
"Baru pertama kali dengar ketawa kayak gini, ya mbak? Lucu emang saya ini." Abadi menimpali perempuan muda itu.
"Mbaknya memang pernah ikut tes dimana, toh? Ya, siapa tau kita sebenarnya pernah ketemu. Apalagi kalau mbaknya tes di UMY dulu, dijamin pasti kita pernah ketemu walaupun gak kenal."
Dia menggeleng. Oh, jelas sudah tebakan Abadi salah besar. "Saya ke Parangtritis, ikut tes masuk ke ISI."
"Oooh, anak seni toh." Abadi melihat perempuan muda itu mengangguk cepat.
Sebelum Abadi mulai bertanya kembali, perempuan muda itu sigap melanjutkan ceritanya. "Dulu ngambil jurusan Produksi Film, sempat nginep dua malam sambil nyari kosan buat kuliah nanti. Eh, gak taunya gak lolos. Sempet mau ikut tes lagi, tapi gak jadi. Ya udah akhirnya milih kuliah di Bandung aja."
Abadi mengangguk-angguk. Setelahnya, tidak ada cerita apapun yang keluar dari mereka berdua. Hening tercipta diantara keduanya, orang-orang lainnya masih sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing. Suara getaran ponsel, suara klik pulpen, suara tok-tok sepatu yang menghantam lantai keramik, suara detak jarum jam, suara karyawan yang tertahan pintu kaca yang membatasi lobi dan ruangan dalam, semuanya berpadu jadi satu. Mungkin sebaiknya dia kembali berbincang dengan perempuan muda itu lagi untuk menghilangkan kesunyian ini.
Abadi baru akan memulai kata pertamanya ketika seorang staf HRD kantor itu memasuki lobi. "Nomor urut 15 sampai 20 siap-siap ya! Lima menit lagi akan dipanggil ke dalam. Nanti langsung bergabung saja dengan kloter sebelumnya untuk wawancara. Nanti akan diarahkan lagi wawancaranya dengan siapa." Ucap Ibu HRD itu tegas.
Ibu ini jelas perempuan Jogja, usianya antara 28-35 tahun. Usia perempuan yang matang, secara fisik maupun pengalaman kerja. Abadi mengangguk, begitupun dengan orang-orang disini.
Ibu HRD itu kembali masuk ke dalam setelah yakin instruksinya dimengerti oleh para calon karyawan ini. Suasana kembali seperti sebelumnya.
"Mas!"
Abadi menoleh, perempuan muda itu yang memanggilnya. "Iya mbak?"
"Itu!" Perempuan muda itu menunjuk ke luar gedung. "Motor kamu?"
Abadi mengikuti arah pandangnya, lahan parkir di depan gedung ini. "Oh bukan, saya parkir di ujung sebelah kiri, mbak."
"Oh, kirain motor Mas. Soalnya kamu dari tadi pencet tombol kunci motornya terus, kebetulan motor itu juga bunyi terus."
Abadi sedikit terkejut. Dia melihat tangannya yang bergerak menekan tombol dikunci motornya. Dia tidak menyadari sejak tadi jarinya terus bergerak. Ah, barangkali karena gugup, pikirnya. Dia balik menoleh pada perempuan muda itu sambil tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih mbaknya, tak kira mbaknya gak merhatikan saya loh kekeke."
Abadi jelas sedang menggoda perempuan muda itu, dan yang digoda celingukan menyadari kegugupannya. Suasana jadi hening lagi. Duh, Abadi tidak suka suasana seperti ini. Dia tipikal orang yang sering gatal untuk terus bicara. Kebetulan hari ini dia bertemu dengan seorang pendengar. Semoga perempuan muda itu tidak keberatan sejak tadi diajak mengobrol olehnya.
"Oh iya, mbaknya jauh-jauh ke Jogja, melamar kerja kesini. Hebat!" Puji Abadi.
Perempuan muda itu tersenyum tipis. "Enggak juga, Mas. Biasa aja. Namanya juga lagi nyari kerja, kebetulan aja ada panggilan interview disini, ya udah dateng."
"Melamar untuk posisi apa, mbak? Kalau saya kebetulan ambil posisi Copy Writer."
Abadi melihat perempuan muda itu sejenak terdiam sebelum menjawab pertanyaannya. "Digital marketing."
Abadi manggut-manggut, sok mengerti. "Berarti mbak ini sudah ada niatan untuk kerja disini toh? Kenapa di Jogja, saya yakin di Bandung juga banyak kesempatan buat mbak kerja."
Perempuan muda itu terdiam. Abadi seketika merasa pertanyaannya salah. Dia langsung mengkoreksi ucapannya barusan. "Bukan ngelarang mbak untuk kerja disini loh ya! Semua orang punya pilihan. Kebetulan pilihan mbak ya untuk kerja disini, sama saya kekeke..."
Perempuan muda itu tersenyum menahan tawa. Abadi menyadari betul suara tawanya akan selalu mengundang tawa dari orang yang mendengarnya. Tawanya menular.
Setelah berhasil menahan tawa, perempuan muda itu kembali terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu atau tiba-tiba terpikirkan oleh sesuatu, lantas mengangguk pelan seolah meyakinkan dirinya untuk mengungkapkan hal paling rahasia dari hidupnya. Abadi menunggu. Kenapa perempuan muda itu sering sekali membuatnya penasaran?
"Karena saya gak punya SIM."
Tiba-tiba dari arah dalam kantor ini, keluar Ibu HRD tadi, membawa papan dada yang menempelkan kertas ukuran A4 sambil membaca satu persatu nama.
"Nomor urut 15 sampai 20, benar?" Tanyanya.
Orang-orang yang terpanggil sudah bangkit berdiri dari kursi, mengangguk dan menjawab serentak, "Benar."
"Baik, bisa ikuti saya ya!" Ucap Ibu HRD mengomando lima orang calon karyawan yang sudah siap bertempur.
Rasa penasaran Abadi makin besar karena jawaban singkat dari perempuan muda itu. Namun ia tak sempat bertanya lebih lanjut karena sumber informasinya adalah salah satu orang yang terpanggil. Dia meninggalkan Abadi dengan cerita yang menggantung.
"Owalah, lupa aku tanya namanya!" Sesal Abadi sambil menepuk dahinya.