Aku terbangun di tengah malam dengan napas tersengal-sengal. Dadaku kembang kempis tak karuan. Bersama sisa tenaga yang kumiliki, aku melangkah turun dari ranjang, melihat sekitarku tak lagi berbeda. Oh Tuhan, segalanya tetap sama! Dari arah manapun aku terbangun kembali, aku akan tetap melihat pemandangan itu. Sesuatu yang membuat mataku berhenti berkedip. Sepersekian detik dadaku beku, oksigen seolah mengisolir dirinya di tengah ruang, menolak memasuki hidungku.
Apa lagi ini? Kenapa berulang terus? Bisakah aku mendapat mimpi yang normal. Seandainya! Kau tahu, mimpi normal! Mimpi dimana kamu hanya mengunjungi sekolahmu, berdiri tegak di depan tiang bendera, dan menyadari upacara tak jadi dilaksanakan. Artinya tidak ada lagi bentakan sok berkuasanya senior kelas 2, keriuhan teman-teman yang tak lengkap atribut sekolahnya, atau langkah-langkah kecil namun cepat yang membuat ruang gerak makin sempit. Oh aku benci ini, maka itulah yang kusebut mimpi normal. Sesuatu yang sangat kuinginkan terjadi, tapi hanya terjadi di mimpi, tidak di kenyataan.
Aku hampir selalu seperti ini, kau tahu, mendapat mimpi aneh dan berlapis-lapis. Seperti sekarang, atau setidaknya tadi aku sudah terbangun dari ranjang reyot tua di kamarku sebanyak tiga kali, melampaui rekorku sendiri. Ini kali keempat, dan tanpa perlu ditebak karena memang akan selalu terjadi, aku akan kembali terbangun di lapisan mimpiku yang kelima, itupun kalau berhasil dilalui.
Oh, kau bingung ya? Sama, aku juga. Tapi mana sempat aku berpikir benar disaat seperti ini. Tiga lapis mimpiku yang sebelumnya masih dalam level baik. Kuharap kau mengerti maksudnya baik itu, ya... seperti tidak ada sesuatu hal yang agak bahaya, dalam artian bahayanya kecil. Paling hanya tersengat listrik 1200 Watt dan rasanya seperti kepalamu terkena smash bola dari lawan: terkejut, linglung, lalu diakhiri dengan rasa sakit. Atau, bertemu dengan sebuah tornado di lepas lautan Pasifik, tidak terlalu jauh dari Hawaii, kau terhisap ke dalamnya, berputar-putar mengelilingi angin berkecepatan tinggi yang membentuk ruang kosong ditengah seperti pipa kerucut, dan voila! Kau tenggelam di kedalaman palung Mariana, Palung terdalam seantero bumi. Itu tidak ekstrem, kau tahu, rasanya seperti naik bis dari Bandung ke Jogjakarta lewat jalur selatan Jawa selama lebih dari… mungkin 1 jam saja. Perutmu mual dan kepalamu pusing. Itu level kedua, di lapisan mimpi kedua.
Level ketiga beda lagi. Kau tidak akan merasakan apa yang pernah kurasakan sebelumnya. Kuyakin juga kau takkan pernah mau merasakannya, kecuali bila kau terserang sakit mental dan berpikir mungkin mati bunuh diri lebih baik daripada hidup. Oh wow, tentu saja itu lebih buruk! Aku memang pernah ingin mati, setidaknya baru kepingin saja, belum pernah mencoba untuk mati. Aku tidak tega melihat pergelangan tanganku terluka cukup dalam hanya untuk melumpuhkan saraf emosiku tapi sekaligus membiarkan darah berhargaku mengalir keluar dengan sia-sia, lalu aku mati dengan bekas luka yang sangat tidak cantik. Setelah itu, aku berpikir untuk mati dengan tubuh dan wajah yang cantik.
Level ketiga yang sebelumnya terjadi padaku dan itu lapisan terakhir yang selama ini berhasil kulewati, adalah tersadar di ranjangku yang berada di atas gundukan tanah keras seperti pulau ditengah lava merah yang menyala. Lalu angin kencang sialan itu berhasil menghempaskan tubuhku jatuh ke dalamnya. Kemudian selesai! Aku benar-benar terbangun di ranjang reyot tua di kamarku yang berada di rumahku, dengan suara dengkuran si Keong kucing peliharaanku dan suara dengkuran Ayah yang lelah, yang berada di desaku, yang itu ada di antara sawah dan kebun buah-buahan segar, yang berada di pinggir kota di sebuah negara subur di planet Bumi yang bersebelahan dengan Venus dan Mars, dan tidak berpindah ke galaksi lain, semacam galaksi Kepppler entah ke berapa. Oke titik, aku capek menjelaskan sedetail itu padamu. Biarkan aku bernapas sejenak, mungkin kau juga butuh itu.
Baiklah, sekarang aku masih membeku karena tak menyangka bahwa aku bisa memasuki lapisan mimpi keempat. Wuih, prestasi terbesar sejagat raya, kukira. Tadinya, aku ingin menyombongkan hal ini kepada teman-temanku di sekolah. Ralat, aku sudah melakukannya. Respon yang kudapat hanyalah wajah bengong lalu diakhiri dengan senyum aneh karena menganggap diriku aneh. Sejak itu aku tahu aku spesial, manusia istimewa dan aneh, kurasa. Tidak ada yang mengalami mimpi berlapis-lapis sepertiku dan mampu mengontrolnya. Jangan kira, kesialanku terkena sengatan listrik 1200 Watt, terhisap ke dalam tornado dahsyat dan membuatku terlempar ke Palung Mariana, atau terhempas angin dan jatuh ke aliran lava panas, karena aku tidak bisa mengontrolnya. Kau tahu, saat itu aku berjalan dan menemukan sebuah (yang kukira) jalur pendakian, ternyata aliran listrik di atas permukaan tanah. Aku sedang mengontrol diriku untuk menjelajahi lapisan mimpi pertama. Aku juga berpetualang di lapisan mimpi kedua dan tak berhasil menyelamatkan diri dari tornado. Ya, terakhir sih karena aku kaget terbangun ditengah lava berpijar yang panas, aku berdiri di atas ranjangku sambil berpikir harus lewat mana aku pergi dari situ tanpa terkena cipratan lava, sampai akhirnya angin sialan itu menghempasku tanpa ampun dan aku terbangun di kamarku yang asli.
Jadi, hei, aku bisa mengontrol mimpiku dan berhenti tidak percaya soal itu! Tapi untuk yang ini, aku makin bingung. Aku tak punya pakaian astronot, berwarna putih dan helm kaca yang penuh dengan cadangan oksigen. Bagaimana caranya aku menjelajahi lapisan mimpi keempat dengan celana training hitam bergaris putih dan kaos kebesaran punya Ayah bergambar mobil Chevrolet Bell Air biru muda? Oh, astaga! Aku tak pernah membayangkan bahwa lapisan mimpi keempat adalah ruang hampa udara di sistem tata surya, dan kamarku mengapung di sebuah langit hitam tak beralas dan berujung!
Tolong, aku ingin cepat-cepat bangun dari mimpiku. Berhenti, tidak usah mengejekku. Aku tahu aku gadis aneh yang terbangun di luar angkasa bersama kamarku, tapi setidaknya aku juga ingin terlihat cantik tanpa rambut singa seperti ini. Aku berharap rambutku serapi rambutnya Anggun di iklan itu. Tiba-tiba aku mendengar suara itu, suara yang tak asing di telinga banyak orang.
"Jadi duta shampoo lain? Hahahaha…"
Bisakah aku bermimpi normal dengan tidak mendengar suara tawa itu? Mimpiku memang kampret!


0 komentar