Dia
bukanlah seorang Albert Einstein yang memiliki satu kelemahan dibalik sejuta
kesuksesannya, ataupun Albert-Albert lain dibelahan dunia lain yang melewati
jembatan pelangi untuk mendulang banyak koin yang ada dalam tembikar emas. Dia
hanya seorang Albert biasa yang mempunyai sejuta kelemahan dibalik satu
kesuksesannya. Hanya satu, itupun tidak sepenuhnya terbilang sukses. Albert,
yang dulunya seorang pengangguran yang tinggal di apartemen kumuh disalah satu
sisi lain dari dari Sidney, berubah hanya 60 derajat dari kehidupannya semula.
Sekarang, walaupun tidak sesukses Albert-Albert lain di dunia, dia telah
sedikit dikenal oleh para wisatawan dunia karena barang-barang souvenir yang ia
jual.
Di tepi
jalan yang menghadap sebuah taman kota indah nan asri di pojok Sidney, setiap
harinya terdengar bunyi suit-suitan, suara bebek, suara ringkikan jangkrik dan
suara kicauan burung yang selalu meramaikan suasana seni di tempat itu. Semua
suara itu bukan berasal dari para lelaki genit yang sedang menggoda perempuan
seksi yang baru saja lewat, bukan juga dari seekor bebek, jangkrik maupun
burung yang tengah asyik bertengger dipohon mapple melihat kesana-kemari dengan
cemas karena pasangannya tak kuncung datang membawa makanan untuknya dan anak-anaknya.
Bukan! Bukan itu, melainkan dari sebuah mainan. Aneh tapi unik, mungkin itulah
pikiran-pikiran yang bersemayam dikepala para wisatawan itu. Mainan yang
kebanyakn terbuat dari bamboo itu telah menyedot sedikit banyak perhatian
orang-orang disekelillingnya. Semua mainan itu hanya sedikit saja yang terjual,
karena mereka hanya tertarik oleh aksi Albert yang begitu lihai memainkan
mainan itu. Sarang burung, mainan yang selalu ia mainkan untuk menarik
perhatian orang-orang adalah salah satu dari semua mainan yang ia pajang dimeja
kecil toko dadakannya.
Albert
sangat lihai menarik-mendorong tangkai bamboo tipis yang tak lain adalah ujung
sarang burung untuk menghasilkan suara kicauan burung yang merdu. Semakin cepat
dia menarik-mendorong ujung sarang burung dan meniupnya dengan interval yang
berbeda, maka akan semakin merdu pula suara kicau burung yang dihasilkan. Untuk
beberapa menit dia asyik sendiri memainkan sarang burung sampai tak sadar dua
orang wisatawan dari Indonesia memperhatikannya. Albert segera menoleh pada
mereka berdua setelah ia menyelesaikan permainannya.
Mereka
langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengannya bergantian. Seorang
perempuan jelita dan seorang laki-laki berjenggot tipis tersenyum padanya.
“Ini
mainan tradisional Indonesia!”, Albert buru-buru menjelaskan sambil menunjukkan
sarang burung ke depan mata mereka, sebelum mereka mulai bertanya.
Wanita
itu sedikit terkejut. “Ternyata anda bisa bahasa Indonesia! Wow, sungguh
unik!”, ujarnya tak percaya.
“Anda
pernah pergi ke Indonesia?”, kini gilirang lelaki berjenggot tipis yang
terheran-heran menatap Albert tak percaya.
Tangan
Albert bergerak lincah mengambil beberapa mainan lain dan menunjukkan pada
mereka. Dia menggeleng lesu namun tetap mempertahankan senyumannya dan berkata,
“Saya pernah merencanakannya bersama sahabat saya, tapi karena sesuatu hal
rencana itu gagal.”
“Sahabat
anda?”, Tanya dia lagi.
Kali ini
Albert mengangguk mengiyakan. “Ya, sahabat saya!” jawabnya
Wanita
itu tersenyum geli mendengar Albert bicara. Walaupun kosakata bahasa
Indonesia-nya cukup baik, namun aksen Australia-nya masih melekat pada diri
Albert, seperti orang asing lainnya yang bicara bahasa Indonesia.
“Bagaimana
ceritanya? Hm, maksud saya bagaimana anda bisa menjual mainan khas Indonesia
ini? Apa anda membawanya langsung dari Indonesia?”, Tanya sang wanita
penasaran.
“Ya,
anda orang yang sangat unik, menjual semua mainan ini di Australia”, lelaki
berjenggot tipis ikut bingung.
Albert
terdiam sesaat. Seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya, mereka langsung
memperkenalkan namanya, begitu pun dengan lelaki berjenggot tipis itu.
“Nama
saya Rosalianti”
“Saya
Agus Cokro”
“Albert”,
jawabnya singkat.
“Jadi
bagaimana anda bisa menjualnya disini?”, tanya Rosalianti, melanjutkan pertanyaannya
yang tadi belum terjawab.
Albert
tersenyum. Tak pernah terlintas dibenaknya akan bertemu dengan orang seperti
Rosalianti, wanita yang penuh semangat mencari tahu karena terbakar rasa
penasaran.
“Awalnya
sahabat saya memberikan sarang burung pada saya sebagai hadiah karena saya
telah menolongnya. Dia salah satu mahasiswa dari Indonesia”, jelasnya
terpatah-patah. Albert berusaha untuk bicara bahasa Indonesia dengan benar,
walaupun disana-sini masih perlu perbaikan.
Pikirannya
menerawang jauh, mengingat kejadian waktu itu. Berandalan di kota yang sangat
terkenal karena sering berbuat onar, entah kenapa dia kali ini dia mencoba
merampas tas punggung seorang mahasiswa. Dia berlari mengejar berandalan itu,
melawan arus pejalan kaki dan membuat orang sedikit penasaran apa yang sedang
terjadi.
Aku disana, berdiri
menantang angin laut dan menyapu pandangan mataku saat mendengar sedikit
keributan. Kakiku segera bergerak cepat mengejar berandalan itu, untung saja
aku hapal dengan jalur rahasia yang selalu ia lewati dan dia bergerak menuju
bengkel tua yang telah lama ditutup. Aku mengambil jalan pintas untuk
mengejarnya dan aku tiba disana lebih cepat darinya. Aku berdiri tepat di
depannya, dia mundur lalu berbalik hendak kabur namun mahasiswa asing itu sudah
lebih dulu menantangnya. Akhirnya dia menyerah, melemparkan tas punggung itu
lalu dia menghilang dibalik semak belukar. Mahasiswa asing itu segera mengambil
tasnya yang tergeletak di tengah. Telingaku seketika hanya mampu mendengar
suara deru mobil yang melaju cepat, sedang suara lain tidak kudengar. Aku
segera berteriak, menyuruhnya pergi dari situ. Mobil itu lewat begitu saja,
menghalangi mataku untuk melihatnya. Dia tak ada, aku tak melihatnya. Kemana
dia? Aku panik, namun setelah mobil itu menjauh, aku melihatnya terduduk di
trotoar. Segera aku mengahmpirinya. Dia hanya tersenyum dan berterima kasih.
Dari situ aku berkenalan dengannya dan memulai persahabatan indah itu.
Albert
segera tersadar. Kedua orang itu menanggapinya dengan membulatkan mulutnya membentuk
huruf ‘O’ tanpa suara. Dengan anggukan kecil mereka segera mengerti perkataan
Albert.
Albert
makin tersenyum sumringah menatap semua mainan yang tersisa. Setelah Rosalianti
dan Agus cokro mendengarkan ceritanya, mereka langsung membeli mainannya.
Walaupun hanya sedikit mainan yang terjual, Albert tetap tersenyum yang
perlahan menjadi senyum pahit. Karena berarti dia hanya mendapat sedikit uang
tambahan untuk hari ini. Seperti hari-hari biasa, hari-hari sebelum dia
memutuskan untuk menjual semua mainan ini.
Dibawah
cahaya temaram lampu jalan, Abert berjalan terseok-seok menggendong tas terisi
penuh mainan dan menjinjing meja lipatnya menuju sebuah gedung apartemen kumuh.
Setelah melewati berpuluh-puluh anak tangga, bertegur sapa dengan tetangganya,
mencium bau alkohol dari kamar berpintu merah yang setiap malamnya selalu
dipenuhi pengangguran dan suara anjing menggonggong dan kucing mengeong,
akhirnya dia berdiri di depan pintu kamarnya.
Huh!
Albert mendesah pelan dan kepalanya tertunduk manakala ibunya membukakan pintu
dan berdiri di ambang pintu kamar. Seperti hari-hari sebelumnya ia selalu
disambut tampang kekecewaan ibunya. Itu terjadi sejak ia memutuskan untuk
berkerja sebagai penjual mainan itu. Entah kenapa, ia jadi sedikit bosan dan
malu tiap kali ibunya memandangnya seperti itu.
“Berapa
uang yang kau dapat hari ini?”, tanya ibunya ketus.
Albert
jadi teringat saat itu, saat ia menemukan ibunya. Dulu ia kabur dari rumah
karena ia tak tahan dengan semua perlakuan ayahnya yang pemabuk. Sekolah ia
abaikan karena jika ia pergi ke sekolah, ayahnya akan menemukannya dengan
mudah. Ia pergi ke Sidney dengan uang yang ia dapat dari tabungannya. Cukup
untuk menyewa sebuah kamar di apartemen kecil untuk setahun. Keluarganya
terbilang berkecukupan, namun semua berubah cepat, ayahnya dipecat dan ia
berhutang besar. Hingga akhirnya ia mabuk-mabukan, pelariannya dari semua yang
terjadi. Tapi harapan hidup lebih baik malah berbalik menjadi buruk. Awalnya ia
bekerja di bengkel tua Pak Jake bersama Dane, yang sekarang jadi berandalan kota.
Tapi beberapa bulan kemudian Pak Jake meninggal dan bengkelnya ditutup begitu
saja. Hingga ia menganggur, setiap hari ia hanya berdiri menghadap laut lepas,
lalu tak sengaja menolong seorang mahasiswa asing dan berteman dengannya.
Semuanya berjalan cepat, dia mendengar berita ayahnya meninggal karena sakit
dari ibunya. Ibunya menyusulnya ke Sidney karena rumah sudah terjual untuk
membayar sisa hutang. Ada rasa bersalah saat menatap mata sendu ibunya, beliau
masih bisa tersenyum. Dan dia menyalahkan dirinya untuk semua yang telah
terjadi.
Albert segera tersadar dari lamunannya. “Ini
cukup untuk kebutuhan kita esok hari, bu!”, jawab Albert sambil melangkah
masuk. Ia terus berusaha menghindari kontak mata dengan ibunya, ia tak ingin
melihat jelas tatapan itu. Albert segera menyibukkan diri dengan membereskan
barang-barangnya dan mengambil semangkuk sup dingin dari dalam panic ketika
ibunya mulai berceloteh.
“Kebutuhan
apa?? Itu hanya cukup untuk membeli sup kaleng murahan ini. Kebutuhan apa lagi,
hah? Jawab Ibu, nak! Kau tak bisa begini terus selamanya! Berubahlah! Untukku,
untuk ayahmu, untukmu…”, suara Ibu mulai melemah, geraka tangan Albert yang
sedang menyendok sup seketika terhenti saat ia mendengar Ibunya mengatakan ini…
“Untuk
sahabatmu…”
Setelah
itu, Ibu masuk ke dalam kamarnya dan suara decitan pintu terdengr sangat
memekakkan telinga. Namun itu tak seberapa dengan ucapannya tadi.
“Demi
sahabatku…” ulang Albert.
Sekarang
segala hal yang tak pernah ia pikirkan malah berkecamuk dalam pikirannya.
Sesuatu yang menyiksa batinnya kembali tanpa diundang. Kejadian setahun yang
lalu, janji yang telah terucap, suara sarang burung bersahut-sahutan, semuanya
kembali dengan cepat. Semuanya begitu jelas tergambar dikepalanya. Sahabatnya
dan kejadian itu yang telah merubahnya hanya 60 derajat.
Siang
itu di dermaga Sidney, dia berdiri memandang laut lepas. Angin laut terus
menerus menerabas dirinya, membuat baju lusuhnya bergerak tertiup angin.
Seperti hari-hari biasa, ia datang kesini untuk menemui seseorang. Tapi tak
seperti biasanya dia datang terlambat. Sahabatnya tidak datang tepat waktu.
Setelah menunggunya lebih dari 15 menit akhirnya dia datang. Suara derap
langkahnya segera membuat Albert berbalik. Albert tersenyum sedikit pahit
melihat penampilannya, celana jeans biru, jaket abu-abu dan sebuah kacamata
berframe tpis sangat menunjukkan bahwa dia salah satu orang yang beruntungan di
dunia. Bisa bersekolah di universitas terkenal di Sidney tidak membuatnya
angkuh. Lihat saja, sekarang dia berteman dengan orang yang pernah menolongnya.
Ia sama sekali tidak menyangka akan berteman dengan penduduk asli negara
kangguru.
“Hai,
bung! Kau berhutang padaku lima dolar!”, Albert menepuk bahunya dengan
semangat.
“Hah?
Bukankah perjanjiannya 15 menit untuk satu setengah dolar? Kau tidak bisa
mencurangiku, bung!”, dia pura-pura terkejut, mundur selangkah dan menatap
jenaka pada Albert.
Suara
tawa segera terdengar keras dari mulut keduanya.
“Berjanjilah
kau tidak akan datang terlambat lagi!” ujar Albert.
Ia tersenyum
lalu mengangguk pelan. “Baiklah, aku berjanji!” jawabnya.
“Jadi
apa rencanamu hari ini?”, Tanya Albert kemudian.
Dia
melangkah maju melewati Albert dan berhenti di depan pagar pembatas. Hening
sesaat. Albert melihatnya tengah asyik tersenyum, sepertinya dia sedang
membayangkan sesuatu.
“Bahri….”
Belum sempat ia melanjutkan pertanyaannya, jari telunjuk Bahri mendorong
matanya untuk melihat objek yang ditunjuknya.
“Kau
menyukainya?”, Tanya Albert setelah melihat seorang gadis Indonesia yang ditunjuknya.
Gadis itu berdiri sendiri di sebuah perahu kecil sambil memotret suasana Sidney
siang hari.
“Ya, aku
sangat menyukainya. Dia adalah pacarku.”, jelas Bahri. Sebuah senyuman masih
tersungging dibibirnya. Bahri berbalik menatap Albert dengan mata berbinar.
“Aku
sudah melamarnya. Dan besok kami akan pulang menyiapkan pernikahan kami
seminggu lagi.”, ujarnya.
Albert
menatap gembira. “Selamat untukmu, bung! Maaf jika nanti aku tak bisa
menghadiri pesta pernikahanmu. Kau sudah tahu ‘kan keadaanku saat ini? Aku
pengangguran, tidak bekerja. Jadi aku tak punya cukup uang untuk pergi kesana.”
“Kau
tahu apa rencanaku hari ini?”, tiba-tiba Bahri memegang bahunya sambil sedikit
mengalihkan pembicaraan. Jika menyangkut masalah pengangguran yang dialami Albert,
ia hari bisa mencegah pembicaraan menjadi luas.
Albert
diam menunggu jawaban Bahri. “Aku akan mengajakmu!”, tegas Bahri.
Albert
terkesiap, ia mengerjap beberapa kali. Itu benar-benar mengejutkannya.”Kau akan
mengajakku ke Indonesia? Kalau begitu aku akan bekerja disana, bekerja membantu
restaurant ibumu, aku akan tinggal disana? Kau sungguh-sungguh, bung?” Tanya
Albert meyakinkan.
Tak
dinyana, Bahri mengangguk cepat. ”Kalau kau mau, kau bisa tinggal di rumahku
untuk sementara.”
Dan
suasana siang itu terasa sangat menyenangkan bagi mereka berdua.
Waktu
berlalu dengan cepat, setelah siang tadi Bahri mengenalkannya pada gadis
Indonesia itu yang bernama Juwita, mengobrol dan jalan-jalan dengan mereka
berdua, Albert pun pulang tergesa-gesa. Sesampainya di apartemen, ia segera
menyiapkan beberapa baju terbagusnya, membersihkan kamarnya dan memandinkan
anjingnya. Sekitar pukul 10 malam semuanya sudah selesai. Tinggal menunggu
waktu berjalan hingga ia akan meninggalkan kamar kumuhnya dan pergi ke Indonesia
bersama Bahri dan Juwita. Kini dia berselonjor diatas kasur, membayangkan
perjalanannya nati.
“Pasti
akan sangat menyenangkan!”, gumamnya.
Pikirannya
menerawang kemana-mana. Keinginannya untuk bisa meninggalkan kehidupannya di
Sidney yang sangat membosankan sampai terbawa dalam mimpinya. Baginya jika ia
tinggal disana, ia pasti tidak hidup seperti ini. Miskin, sengsara dan
kesialannya tidak akan mengikutinya lagi. Disana ia membayangkan memiliki
pekerjaan yang layak, memiliki rumah yang walaupun kecil namun indah dan
nyaman. Dan ia tidak akan pusing memikirkan bagaimana ia dapat makanan, member
makan anjingnya, membersihkan tubuhnya yang bau dan dekil. Tidak akan! Disana
ia akan hidup berkecukupan.
Sayang,
itu semua hanyalah mimpi. Bunga tidur yang menjelma seola-olah semuanya benar
terjadi. Saat dia bangun dari tidurnya karena seseorang mengetuk pintu dengan
keras, hanya berita itu yang segera terlintas dikepalanya.
Ia
melirik jam dinding di kamarnya, dengan mata masih setengah tertutup. Masih jam
lima pagi, masih ada waktu satu jam lagi sebelum dia berangkat ke dermaga.
Disana Bahri dan Juwita akan menjemputnya dan mereka berangkat bersama-sama
menuju bandara. Tapi kenapa ada yang mengetuk pintu pagi buta seperti ini?
Albert
segera membuka pintu dengan langkah malas. Ia menguap berkali-kali saat
memandangi seorang wanita tua gendut dihadapannya. Rambutnya diroll berantakan
dan dia masih mengenakan piyama merah marunnya.
“Ada apa
nyonya? Kau mengganggu tidurku saja!” Albert lagi-lagi menguap.
Nyonya
tua gendut itu menatap Albert dengan jengah dan kesal. Tapi buru-buru ia
teringat tujuan utamanya. “Tadi ada sedikit keributan di bawah, kudengar
berandalan itu beraksi lagi dan dia memukuli seorang wanita tua. Seumuran
denganku. Sekarang dia terluka. Aku minta bantuanmu untuk mengusir berandalan
itu dan aku akan membawa wanita itu ke rumah sakit.”, jelas sang nyonya.
Belum
sempat ia menjawab, tangannya sudah ditarik keluar dari kamarnya oleh sang
nyonya. Kakinya bergerak cepat menuruni tangga. Dan benar saja Dane tengah
menjambak rambut seorang wanita tua dan menendangnya berkali-kali. Albert tak
bisa menerima itu, dia langsung mendorong Dane dan memukulnya.
“Sudah
berapa kali kau melakukan ini pada orang-orang, hah!” Albert membentaknya, tapi
Dane balas memukulnya.
“Jangan
lakukan ini! Kau akan menyesal!! Dasar bedebah!!” Albert memukulnya, mencoba
melepaskan amarahnya pada Dane. Kau juga
melakukan hal yang sama pada Pak Jake…
Perkelahian sengit pun terjadi. Sementara itu sang nyonya segera berlari
menghampiri wanita itu yang sudah jatuh pingsan. Luka dan lebam biru
dimana-mana telah menghabiskan tenaganya. Setelah Dane pergi dengan luka
pukulan dari Albert, Albert segera menggendong wanita itu dipunggungnya dan
membaringkan tubuhnya diatas kursi mobil sang nyonya.
Sang
nyonya sudah duduk dan memegang kemudi, dia bersiap pergi. Namun keadaan wanita
itu membuatnya menghentikan Albert yang hendak pergi.
“Bisakah
kau membantuku lagi? Tolong bersihkan lukanya dan lepaskan kain yang menutupi
wajahnya, aku takut ia tak bisa bernapas.”
Albert
segera menuruti perintahnya. Ia mulai membersihkan luka ditangan wanita itu dan
membuka kain itu. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat melihat wajahnya.
“Ibu…” ujarnya lemah.
“Nyonya,
kita berangkat sekarang!” teriaknya sambil membanting pintu mobil. Sang nyonya
termangu sesaat, namun cepat-cepat dia menyalakan mesin mobilnya. Dan mobil pun
melaju cepat melupakan keinginan Albert.
Bahri
dan Juwita datang ke dermaga. Mereka datang untuk mennjemput Albert lalu segera
pergi dari tempat ini.
Albert
menggendong ibunya masuk ke rumah sakit, ia tidak mau kehilangan ibunya setelah
tadi ibunya sempat sadar dan mengabarkan kematian ayahnya. “Aku tidak mau kau
pergi, bu…”
Matahari
sudah mulai meninggi dan dermaga sudah mulai ramai. Bahri dan Juwita masih
menunggunya. Dengan harap-harap cemas, Bahri celingukan kesana kesini melihat
setiap orang yang berjalan di dermaga itu. Ia berharap diantara ratusan orang
itu, ada Albert yang tengah berjalan ke arahnya. Namun harapan itu sepertinya
akan sia-sia saja.
Albert
mengantar ibunya ke dalam kamar perawatan. Dia diam, menatap wajah ibunya.
“Maafkan aku, bu. Aku tidak bisa mencegah kepergian ayah…”
Bahri
tak dapat menahan rasa kecewanya, manakala sahabatnya sendiri tidak datang
tepat waktu. Janji yang dilontarkan oleh Albert sendiri padanya kemarin. Dengan
lemas, Bahri masuk ke dalam taksi, namun harapannya belum putus. Ia kembali
keluar taksi dan menunggu Albert untuk datang dan pergi bersamanya. Namun waktu
sudah mengejar mereka. Juwita mengajak Bahri untuk segera pergi. Akhirnya,
Bahri tak bias melakukan apapun lagi. Dengan berat hati ia kembali ke dalam
taksi. Tepat pukul tujuh Bahri dan Juwita pergi menuju bandara dengan taksi yang
sudah menunggu di dermaga.
Albert
terduduk lemas. Disampingnya sang nyonya terus menenangkannya. Lalu ranjang
yang membawa ibunya memasuki ruang operasi. Dokter menjahit luka robeknya
dengan teliti.
Suara
detak jarum jam menemaninya melewati waktu. Dokter keluar dari ruang operasi
dengan senyuman. Perasaan lega segera menjalari tubuh Albert. Tiba-tiba
telinganya tak bisa mendengar apapun, dengan cepat ia menangkap suara dari TV
yang segera mengeras dengan jelas. Sangat memekakkan telinganya dan menghentikan
degup jantungnya. Berita pesawat meledak di udara saat lepas landas itu
menghujam dirinya. Semua penumpang tewas termasuk pilot. Pesawat yang membawa
sahabatnya ke Indonesia telah hancur, bersama keinginanannya.
Esoknya,
Albert bertemu dengan adik Bahri, Citra. Dia bilang akan ada sekardus mainan
Indonesia tiap bulannya selama 7 bulan, hadiah dari Bahri. Lalu Citra pergi
setelah mereka menaburkan bunga di tempat puing-puing pesawat itu jatuh, yaitu
di dermaga Sidney, ditempat dia biasa menatap laut lepas.
Albert
menggeleng, mencoba menyadarkan kembali dirinya. Ia melihat tangannya
mengambang di udara, sup itu jatuh dari sendoknya. Ia jadi tak berselera makan.
Dengan langkah gontai ia berjalan ke kamarnya, namun sudut bola matanya
menangkap sarang burung yang tergeletak diatas meja makan. Beberapa saat dia
terdiam memandanginya.
“Ibu,
aku pergi dulu!!” Albert mengambil sarang burung dan berlari keluar
apartemennya. Suara derap langkahnya membangunkan ibunya. Ibunya tersenyum
lembut dan kemali terlelap dalam tidurnya.
Albert
sampai di tempat itu di dermaga. Langkahnya melambat dan berhenti didepan pagar
pembatas. Perlahan dia menyentuh pagar dan mengelusnya. Dia pernah menyentuhnya. Tiba-tiba disudut matanya, keluar setetes
air mata yang jatuh tepat diatas permukaan pagar pembatas itu. Tangannya
bergetar mengambil sarang burung dari sakunya dan mulai memainkannya sambil
terisak dalam tangisnya.
“Andai
aku tidak datang terlambat, mungkin aku bisa pergi denganmu. Tapi aku tak bisa,
ibuku…” dia diam.
“Tapi
aku berjanji satu hal padamu. Bahri, aku akan berubah lebih baik. Untukku dan
juga untukmu…”
Suara
kicauan burung terdengar merdu dilembutnya angin malam.