Semilir angin menerbangkan debu-debu
pasir ke wajahku membuat mataku perih karena debu menempel pada bola mataku.
Matahari kini tepat berada di atasku membuat bayangan enggan menampakkan
dirinya.
Panas terik mentari telah membuatku
berubah. Perilaku. Aku cepat-cepat menuju kamarku saat tiba di rumah. Tak
seperti biasanya, aku terus memandangi bayanganku di cermin. Aku meraba dan
mencubit pipiku untuk mengetes apakah ini mimpi atau bukan. Ternyata bukan.
Kulirik jam dinding di kamarku, jam 12.00. Aku masih mengingat kejadian yang
baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Aku bertemu dengan seseorang. Dia
memiliki wajah yang cantik dan kulitnya terlihat putih seolah-olah sinar datang
menyinari wajahnya. Suaranya begitu lembut dan cara berjalannya begitu anggun.
Wajah itu tak bisa kulupakan hingga saat ini. Namanya Siti Maryam, siswa baru
di sekolahku. Dia sekarang adalah teman sekelasku. Dan aku baru tahu bahwa dia
seorang santri di Pesantren Nurul Salam di desaku berdekatan dengan rumahku.
Hanya dibatasi oleh masjid besar Nurul Salam. Dia baru menceritakannya sepulang
dari sekolah. Pantas saja dia begitu feminin dan muslimah, dia kan nyantri, gumamku dalam hati.
Berbeda
denganku yang dikenal tomboy oleh teman-teman di kelas. Penampilanku tidak
secantik Maryam. Hampir semua teman dekatku adalah anak laki-laki kecuali
sahabatku, Vyi. Dia berkerudung seperti Maryam tetapi tidak nyantri. Dia tinggal di Subang dengan
neneknya. Sebenarnya dia berasal dari Bandung.
Aku terus memandangi bayanganku di
cermin sampai tidak menyadari Ibu datang ke kamar.
"Iya, ayo makan!" suruh
Ibu yang langsung masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu dulu.
"Loh, belum ganti baju rupanya!
Cepat ke dapur, nanti antar Ibu ke Pesantren, ya!' suruh ibuku lagi.
"Emangnya Ibu mau ngapain? Kan
gak ada pengajian DKM di Pesantren?" tanyaku heran.
"Ya, tapi Ibu ke sana mau
ketemu sama teman lama Ibu dari Bogor. Kemarin dia baru pindah ke Subang. Dan
di pesantren itu anaknya nyantri." jelas Ibu sambil berjalan ke
luar kamarku.
"Oh, ya. Jangan lupa, kamu
harus pake kerudung!"
Hufh, aku paling malas kalau di
kerudung. Tapi untuk kali ini aku harus mencobanya. Barangkali aku akan lebih
terlihat cantik seperti Maryam. Gumamku pada diri sendiri.
Aku langsung mengganti pakaianku
dengan rok panjang dan baju panjang. Memang terasa tidak nyaman tapi aku harus
coba. Tidak ada salahnya, kan jika tomboy jadi feminin. Lalu aku
mengambil kerudungku dan menyusul Ibu di dapur.
Tepat pukul 12.30 aku dan Ibu sudah
ada di depan Pesantren itu. Ibu menyuruhku untuk menunggu di pelataran masjid
karena ibu akan mengunjungi KH.Abdullah atau biasa di sebut Pak Haji, ulama di
desaku yang sudah sepuh di Pesantren. Saat aku berjalan ke masjid, tidak
sengaja aku bertabrakan dengan seseorang. Peci yang dipakainya jatuh lalu dia
mengambilnya. Dan saat dia berdiri di hadapanku aku baru tahu bahwa dia adalah
kakak kelasku di sekolah dan sekaligus tetanggaku.
"eh... Maria! Maaf ya, gak
sengaja. Ehm... duluan ya. Assalamu'alaikum! Katanya minta maaf dan berlalu
dari hadapanku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum
tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Jantungku berdetak kencang dan
napasku sengaja kutahan untuk menutupi perasaanku. Aneh, jika hal ini terjadi
padaku. Baru pertama kali aku merasakannya. Aku pun duduk di pelataran masjid
untuk menenangkan pikiranku. Aku mengambil HP-ku yang ada di saku rok. Lalu
mengetik pesan singkat dan mengirimnya pada Mpi, sebutan untuk Vyi. Tak lama
kemudian suara HP-ku berdering, menandakan adanya pesan baru.
"Iya, kamu itu lagi suka
sama Kang Sidik, tahu!"
Aku
pun membalasnya lalu dengan cepat aku menekan tombol "OK" untuk
mengirimnya.
Krriing...
Aku langsung membuka SMS itu.
"Kang Sidik satu ekskul sama
aku. Gimana kalau kamu masuk Pramuka aja, biar bisa terus ketemu. Oh, ya...
Kang Sidik suka sama cewek yang berkerudung loh...!"
Lalu aku membalasnya, "Ya,
trims :)" lalu mengirimnya kembali. Aku tak sabar menunggu hari esok
tiba. Jadi tomboy itu harus nekad.
Setelah beberapa saat aku menunggu,
ibuku datang dan mengajakku ke dalam Pesantren. Disana telah ada Pak Haji
dengan sepasang suami istri yang sedang mengobrol. Kami pun dipersilahkan duduk
lalu Ibu memperkenalkanku kepada teman lama Ibu, sepasang suami istri itu.
"Cucu saya nyantri di
sini!" jelas Pak haji.
Ternyata sepasang suami istri itu
adalah anaknya Pak Haji.
"Namanya Siti Maryam. Baru
masuk sekolah di SMP sini." jelas suami teman lama Ibu.
Aku tersentak kaget, jadi Maryam
adalah cucunya Pak Haji. Pantas saja dia begitu alim kakeknya saja ulama besar
di sini. Aku semakin menambah kekagumanku pada sosok gadis muslimah itu,
Maryam.
"Lalu nama putri teteh
siapa?" tanya teman lama Ibu yang bernama Ibu Hanifah.
"Oh, namanya Siti Maria."
jawab Ibu malu-malu.
Setelah cukup lama
berbincang-bincang, Ibu dan aku pamit pulang.
Keesokan harinya, sebelum berangkat
sekolah, Mpi sudah ada di depan rumahku. Lalu kuajak dia ke kamarku. Aku
sengaja menyuruhnnya datang ke rumah untuk mengajarkanku cara memakai jilbab
segi tiga, supaya lebih nyeni dibanding pakai jilbab biasa. Keningnya
berkerut ketika aku memberitahukannya keinginanku untuk berjilbab.
"Beneran? Kamu gak bercanda,
kan?" tanya dia tak percaya.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Pasti karena Kang Sidik suka
sama cewek yang pake jilbab, kan?" tanya dia sekali lagi.
Dan untuk yang terakhir kalinya aku
mengangguk.
"Pake kerudung itu bukan untuk
menarik perhatian cowok, tahu. Tapi karena ini udah jadi kewajiban setiap
cewek. Nanti kamu kualat, loh!"
"Tapi untuk kali ini aja!"
"Hah? Jadi kamu gak
sungguh-sungguh?"
"Please!" pintaku.
Dengan terpaksa Mpi membantuku
memakai jilbab. Dan hasilnya sanag berbeda.
"Sekarang kamu malah lebih
mirip Maryam, deh!" katanya memandangiku.
Aku bukan Maryam, tapi aku Maria,
gerutuku dalam hati.
Setibanya di kelas, semua orang
memandangiku, heran. Aku sudah menebaknya.. lalu Iqbal, teman dekatku
menghampiriku.
"Sudah insaf, ya. Neng!"
Lalu semua orang tertawa melihatku.
Berbeda. Aku hanya mengerutu kesal sambil berjalan ke bangku. Dia, Maryam,
menatapku sambil tersenyum di bangku yang di tempati olehku dan Neni.
"Ada program kelas baru.
Kemarin baru dibentuk. Dan Neni masuk kelas itu."
oh, ya aku lupa. Kemarin aku ikut
kumpul OSIS yang berencana membuat program kelas baru di sekolah, karena atlit
telah banyak bersemayam di sekolah ini dengan mengukir banyak prestasi. Dan
Neni sekarang masuk kelas atlit.
Sekarang sampai kelas 3 aku akan
duduk sebangku dengannya.
Setelah semua orang pulang, karena
jam pelajaran telah usai, Mpi datang ke kelasku dan mengajakku ikut ekskul
Pramuka di sanggar dekat laboratorium atau lab. Tapi di tengah jalan dia
menyuruhku untuk pergi sendiri karena dia hendak ke kamar mandi. Jadi aku pergi
sendiri. Tapi setelah sampai di depan lab, sanggar terlihat kosong dan pintunya
tertutup. Aku disuruh menunggu di sini, tapi karena rasa penasaranku aku pun
mengecek sanggar itu. Mungkin saja sudah banyak orang di dalamnya. Namun tak
sengaja aku mendengar pembicaraan orang lain dalam sanggar itu.
"Jadi kamu udah kenal sama
Maryam itu sejak kapan?"
Hah, Maryam?! Tanyaku dalam
hati. Aku mulai penasaran dengan percakapan ini.
"Dari kecil kita udah saling
kenal malah akrab."
"Oooh.. terus kamu mau nembak
dia kapan, Sidik?"
Haah... Jadi orang yang ada di dalam
itu Kang Sidik!! Kang Sidik mau nembak Maryam!! gumamku pada diri sendiri.
Tiba-tiba suara lembut Maryam mengagetkanku. Dia datang dengan Mpi.
"Siapa yang mau nembak
Maryam?" tanya Mpi.
"Euh.. bukan apa-apa!"
jawabku kaget.
"Aku pulang dulu, ya!" aku
pergi terburu-buru karena mendengar suara pintu sanggar terbuka. Mungkin Kang
Sidik dengan temannya sudah ada di luar sanggar.
"Maria, terus gimana, kamu
mau...."
Aku mengacuhkan kata-kata yang
diteriakkan Mpi. Aku pulang dengan rasa penyesalanku. Aku berkerudung hanya
untuk menarik perhatiannya. Tabarruj. Maafkan aku, Ya Allah. Aku telah
berbuat dosa. Ternyata dia menyukai Maryam, bukan aku. Maria.



0 komentar