Aku melihatnya tengah memakai sebuah topi.
Ya, bentuknya memang bukan seperti topi pada umumnya.
Bentuknya bundar, elastic sehingga saat dikenakan segera
mengikuti bentuk kepalanya.
Aku melihat topi itu.
Berwarna putih cemerlang, dengan rajutan benang wol yang
menyusunnya.
Aku melihatnya melepaskan topi itu.
Dia segera melakukan beberapa gerakan. Mencuci kedua telapak
tangan, lalu berkumur-kumur, membersihkan lubang hidungnya, membasahi wajahnya
dan aku melihatnya membasahi rambut cepaknya.
Aku memerhatikannya dengan focus. Hingga tak sadar dia
melihatku. Aku segera menghentikan pandanganku dengan gagap. Karena kulihat dia
berjalan ke arahku. Tangannya memakaikan topi itu ke atas kepalanya.
Dia tersenyum. Aku balas tersenyum. Dia memandangku, tapi
aku tak berani memandangnya. Aku diam menunduk.
Dan dia sudah berdiri dihadapanku.
Sebelum dia beranjak pergi dari sini, aku segera bertanya
padanya. Bertanya mengenai hal yang membuatku penasaran.
“Apa nama benda itu?” tanyaku sambil menunjuk ke arah topi
bundar yang ia kenakan.
Dia tersenyum lantas melepaskan topinya dan memandangnya
lekat. “Namanya peci.”
Setelah itu, dia segera pergi dari hadapanku.
Aku mengangguk.
Aku manggut-manggut.
Nama topi itu adalah peci, dengan warna putih.
Aku berbalik, menatap sosoknya yang sudah menghilang
diantara orang-orang yang masuk ke dalam masjid.
Sambil berjalan memasuki pelataran gereja, aku berusaha
mengingat nama benda itu.
Namanya peci, dengan warna putih cemerlang.



0 komentar