Aku
tak sengaja mendengar suara merdu. Kulewati ruang demi ruang untuk mencari dari
mana suara itu berasal. Dan kutemukan.
Kulihat sebuah seruling panjang
dengan enam lubang tengah dimainkan oleh seseorang. Benda yang menghasilkan
suara merdu yang tadi kudengar.
Tiba-tiba suara merdu itu lenyap
seketika. Orang itu menghentikan permainan
serulingnya ketika menyadariku ada di ruangan ini, bersamanya.
Aku terdiam sesaat ketika melihat
wajahnya. Bagaikan tersambar petir, tubuhku mendadak kaku. Melihat wajahnya,
aku malah tak bisa berbuat apa-apa selain terdiam karena rasa terkejut ini.
“Hai!”
Segera aku mendengar sebuah suara di
ruangan ini. Entah itu suaraku atau suaranya.
Dan aku dengan cepat menyadari bahwa
suara itu berasal dari getaran angin didalam pita suara, menghasilkan suara
dari tenggorokanku. Suara itu adalah milikku, bukan miliknya.
Kulihat dia kembali memainkan
seruling itu. Dan suara merdu dan syahdu itu mengalir
dalam lantunan harmoni yang ia mainkan dengan serulingnya.
Namun berhenti dan menghilang, seperi tadi.
“Hai!”
Kudengar dia membalas suaraku. Dan
dia tersenyum. Maka aku pun tersenyum membalasnya.
Kami berdua saling beradu pandang.
Namun segera aku tersadar bahwa ini tidak akan berhasil. Aku menunduk, tak
berani meyakinkannya bahwa ini akan baik-baik saja.
Semua ini sudah berakhir, bukan?
Bukankah sejak awal, sejak pertama, kaulah yang memutuskan untuk berkelana, tentu saja bersama
serulingmu? Kau memang sudah berniat meninggalkanku. Dengan serulingmu, kau
berjalan mengikuti arah angin akan membawamu pergi. Entah kemana, kau tak
tahu tujuanmu. Namun yang pasti kau harus bersama serulingmu, kemana pun kau
pergi.
Dan disini, di tempat ini, di
ruangan ini berhari-hari aku terkurung. Menantikanmu dan berharap kau akan
datang ke ruangan ini. Selama itu pula, aku berusaha mengikuti suara-suara yang
ada disekelilingku. Berusaha menangkap sinyal suaramu. Berusaha menemukanmu.
Akhirnya sekarang aku berhasil
menemukanmu, tak lain karena angin yang membawa suara serulingmu kepadaku.
Angin yang membawamu kembali padaku.
Tapi aku tersadar kembali. Kau yang
memutuskan semua ini. Dan hatiku sakit karenanya. Aku berbalik dan dengan satu
gerakan aku sudah berjalan meninggalkan ruangan ini. Meninggalkanmu dengan
seruling anginmu.
Meninggalkanmu…
Meninggalkanmu yang sudah menyakitiku.


0 komentar