Sejuknya
semilir angin siang itu mengeringkan tetesan keringatku. Siang itu begitu panas
sampai-sampai bisa menembus tebalnya tembok ruang kelasku dan berhasil menembus
pori-pori kulitku. Membuatnya basah karena keringat. Seperti kata guru Biologi,
keringat disebabkan oleh udara panas. Itu betul banget. Dan juga stress, itu
menurutku. Karena semua orang terlihat sangat bosan, bosan dengan pelajaran
membosankan yang harus mereka pelajari mati-matian.
Cuaca panas
ini telah membuyarkan konsentrasiku. Aku pun membiarkan mataku menyapu seluruh
sudut ruangan dan lapangan voli yang bisa dilihat, untuk menyegarkan pikiran.
Namun mataku terhenti pada satu titik. Seorang gadis, Wulan. Diam-diam kugambar
wajahnya dalam sketsa yang tertuang dalam selembar kertas kosong di buku
tulisku. Samar-samar kupandangi wajah mungil itu dari kejauhan. Dia sedang
berjalan menyusuri koridor yang ada di seberang kelas. Dia tidak sendirian,
seorang wanita paruh baya menemaninya dan berakhir di ruang guru. Aku masih
bisa melihat wajahnya tersenyum lalu mengangguk pelan pada wanita itu. Dia
begitu…
“Berapa
akar dari 432, Iqbal?”
Suara
pekikan itu jelas membuatku meloncat kaget. Terlihat wajah memerah dan mata
terheran-heran telah mengawasiku sejak tadi. Dan semua orang memandangiku. Aku
celingukan heran. Apa yang terjadi barusan, kenapa semua orang memandangiku?
Aku berusaha untuk tetap tenang dan pura-pura tahu apa yang terjadi. Dengan
sigap aku berdiri.
“Maaf, Pak.
Saya tadi kurang mendengar perkataan Bapak karena tadi saya masih memikirkan
tentang perakaran.” Kataku mengangguk pelan dan memasang wajah polos.
“Bapak kira
kamu sudah mengerti. Tapi baiklah, akan Bapak jelaskan sekali lagi. Pasti
selain kamu, yang lain juga belum mengerti. Nah, perakaran itu bla…bla…bla…
jadi harus begini bla... bla… bla… lalu bla... bla… bla… dan bla... hasilnya
akan bla... bla… bla… sederhana, bukan?” jelas Pak Osar, guru matematika yang
sedang mengajar di kelasku.
Akhirnya
berhasil juga, lelaki memang banyak akal, gumamku dalam hati. Lega.
Teeet…
teeet…
Bel
berbunyi menandakan berakhirnya pelajaran. Semua orang di kelas telah
bersiap-siap pulang lalu berdo’a, seperti biasa aku memimpin mereka dan Pak
Osar pun keluar dari kelas. Setelah itu berbondong-bondong semua orang keluar
sambil membawa tas mereka yang dipenuhi dengan buku-buku. Tiba-tiba sosok gadis
mungil itu terlihat lagi oleh mata dan kepalaku. Dia sedang berjalan lalu
melewati kelasku. Hmm.... dia memang cantik.
Aku
buru-buru menggendong tasku keluar kelas, aku akan mengejarnya lalu mengajaknya
ngobrol. Itulah rencanaku. Namun langkahku terhenti oleh sebuah teriakan.
“Iqbal!!!
Jangan kabur!!! Piket dulu!!!”
Hufh, cewek
comel itu lagi.
Aku pun
berbalik dan menghampirinya dengan memasang wajah kesal. Gara-gara dia, mungkin
Wulan sudah pergi sekarang dan rencanaku gagal total. Aku juga harus
mengerjakan pekerjaan cewek, menjijikkan. Kulihat gadis menyebalkan itu tengah
berdiri di sudut belakang kelas, tempat peralatan kebersihan disimpan. Aku
terus berjalan menghampirinya sampai aku sudah berada di depannya dan
membuatnya mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel di tembok. Kini
aku dan dia hanya berjarak beberapa senti. Ini akan membuatnya salah tingkah.
Haha... rasakan! Aku tersenyum simpul padanya.
“Heh, jangan
mentang-mentang kamu jadi KM dan Ketua OSIS bisa seenaknya aja gak piket.”
Katanya mulai terdesak olehku.
Kulihat
raut wajahnya mulai berubah, dia mulai panik ketika telapak tangan kananku
telah menempel pada tembok dekat telinganya.
“Heh, Mpi,
emang siapa yang milih aku jadi KM dan Ketua OSIS ?! Bukan salah aku, lah!!”
“Ya....
ehm, ya... yang pasti bukan aku, Iqbal!!!”
Terdengar
suara desahannya yang membuatnya gugup. Namun tiba-tiba dia berteriak sangat
kencang sambil menyebutkan namaku. Teriakannya membuat gendang telingaku serasa
hancur berkeping-keping. Aku mengusap-usap telingaku yang ngilu. Lalu....
Auu....!!!
Sakit
sekali! Aku memegang betisku yang sakit dan memerah lalu meloncat-loncat dengan
satu kaki. Gadis itu telah menendang betisku dengan keras. Kurang ajar!
“Sakit ya?
Rasain!!” kata gadis itu mulai merasa puas setelah menyiksaku.
Hampir saja
aku bisa membuatnya jadi salah tingkah. Tapi cewek ini kebal banget! Setelah
dia berhasil membuat kakiku sakit dia berusaha untuk kabur tapi untungnya bisa
kutahan. Aku meraih tangannya saat dia sudah berada di belakangku. Lalu aku
berbalik ke hadapannya.
“Heh,
urusan kita belum selesai, ya!” ancamku dengan mata melotot.
“Kalau kamu
mau cepat selesai, piket dulu!”
“Ok, siapa
takut. Nanti aku tunggu kamu di depan pangkalan ojeg!” kataku mengibaskan kantong padanya.
Tiba-tiba
terdengar suara deheman seseorang dari ambang pintu kelas. Aku kira hanya kami berdua
yang ada di kelas ini. Ternyata Amira, temanku di OSIS dan … Wulan!!! Gadis itu
melihatku berdua, hanya berdua!! Dengan cewek comel ini!! Eeuh, pasti dia salah
mengira. Arrgh....
“Ciiieee.....
Iqbal sama Vini ternyata lagi pacaran!! Ehm, mesra banget sih! Iri deh.”Kata
Amira menggoda.
“Iya, ya.
Mesra banget, sampai-sampai pegangan tangan lagi!” timpal Wulan.
Aku lupa
kalau aku masih menggenggam tangannya untuk mencegahnya kabur. Aku buru-buru
melepaskan genggaman tanganku. Dan mengelapnya ke bajuku.
“kita ini
gak pacaran!!”
Ternyata
perkataan itu terucap olehku dan gadis itu bersamaan dengan munculnya Fikri ke
kelasku.
“ehm....
ada pasangan baru nih?!” goda Amira.
Haah, siapa
yang baru pacaran? Tanyaku dalam hati, heran.
“Lan, nanti
pulang bareng, ya!” kata Fikri pada Wulan.
“Siapa yang
pacaran? Wulan sama Mpik?” Tanya Vini. Ikut campur, loe!
“Siapa
lagi, coba!” jawab Amira cengar-cengir.
“Haaah?” Aku kaget setengah mati.
Aku belum percaya dan tidak akan pernah percaya pada apa yang sedang terjadi.
Mana mungkin, tapi Mpik belum bilang padaku kalau dia nembak Wulan. Dia kan tahu
kalau aku juga suka sama Wulan. Dasar licik loe, Mpik!
‘‘Eh, ya.
Iqbal kemarin pulang duluan sih! Jadinya gak ngelihat Wulan di tembak sama
Mpik! Ah, kamu sih!! Kecewa, ya belum dikasih tau sama siapa pun.“ Oceh Amira.
Bukan! Aku
malah pulang setelah kumpul OSIS selesai. Kemarin aku diajak... hey, tunggu
dulu. Kemarin Mpik menyuruhku untuk mengedit makalah untuk acara Paturay
Tineung. Arrgh, pasti dia sudah merencanakan ini matang-matang. Dasarrr...
Mpik, munafik loe! Apa loe gak pernah denger dan gak pernah ingat kalau gue
suka sama Wulan, gadis cantik itu yang sekarang milik loe. Loe gak tau diri
banget sih, jadi orang. Loe beraninya nikam dari belakang. Munafik… Mpik !!!
Loe yang dulu jadi sahabat gue, yang selalu ngedengar curhatan gue, tapi loe juga
musuh gue. Mulai saat ini.
Aku
mengepal jari-jemariku, menahan amarah yang terus mengalir dalam darahku.
Tiba-tiba amarahku meredup saat aku merasakan sesuatu telah menyentuh tanganku.
Kulihat seseorang telah menggenggam tanganku erat-erat. Rasanya seperti ketika
aku sedang kesal dan marah lalu emosi itu menghilang tiba-tiba saat sebuah
mantera menyihirku. Dia, Mpi. Kulihat raut wajahnya mulai berubah. Yang tadinya
terlihat senang, karena tentunya telah membuatku kesakitan, kini memaksakan
dirinya untuk tersenyum. Ada apa dengannya? Enak saja dia memegang tanganku dan
meremas-remasnya seperti sedang memeras susu sapi. Emangnya tanganku ini susu
sapi apa, yang bisa diremas-remas.
Aku
berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya yang semakin lama membuat tanganku
sakit. Tapi untungnya setelah mereka semua pergi keluar kelas, aku bisa
langsung mengalihkan genggaman tangannya. Sekarang giliranku yang mulai meremas
tangannya.
‘‘Auu...
sakit tahu!! Gak punya perikemanusiaan banget sih, jadi orang!“ Ocehnya kesal.
‘‘Heh, kamu
tuh yang duluan ngeremas-remas tangan aku. Kayak lagi meremas-remas susu sapi
aja. Jangan sembarangan ya, kamu megang-megang tangan aku. Kita ini bukan lagi
pacaran. Aku juga gak akan sudi bakal pacaran dengan cewek kayak kamu. Cewek
comeeelll…!“ kataku bernada marah.
Tapi dia
hanya memelototiku lalu pergi. Tidak biasanya dia seperti itu padaku. Aiits,
kenapa aku jadi mikirin cara dia berbuat sesuatu sama aku. Hii… jangan sampai
kejadian kayak yang dibilang sama Amira tadi. Gak sudiii … !!
Kemudian
aku pun menyapu lantai. Itu pun sepertinya kurang bersih. Akh, peduli! Mau
bersih, kek atau mau gak, kek. Terserah, gak akan dimarahi kakek ini. Aku
terpaksa melakukan ini, supaya aku bisa menyelesaikan masalahku dengannya.
Awas, lihat saja nanti di pangkalan ojeg.
Setelah
semua tugas aku kerjakan sesuai dengan perintahnya, aku langsung meluncur
keluar kelas. Dan di ambang pintu aku berhenti sejenak sambil memandang
lapangan voli yang kosong, hanya dipenuhi oleh debu. Hmm… pasti bermilyaran
bakteri telah menggeroti lapangan voli. Amoeba, bakteri kesukaanku dari
pelajaran favoritku, Biologi. Aku terus memandangi pemandangan kecil itu.
Sebentar, untuk apa aku terus berdiri disini? Oh, ya. Aku menunggunya.
Sebaiknya aku melihat apa yang sedang dia lakukan sekarang.
Bruukk...
Tiba-tiba
saat aku berbalik, tak sengaja aku menabraknya. Dia hampir terjatuh karena aku
menabraknya dengan keras. Tapi untungnya aku cepat bertindak, menariknya lalu
memeluknya dengan cepat agar dia tidak terjatuh ke got depan kelasku.
Deg!
Jantungku
terasa berhenti saat dia kini ada dihadapanku. Aku memandangnya, hanya sesaat.
Tapi itu seakan-akan berlangsung beberapa menit. Aku menikmati itu. Aih,
lagi-lagi aku berpikir seperti itu. Entah kenapa sekarang aku sulit bernapas.
Malah aku berusaha untuk menarik napas sedalam-dalamnya. Kenapa? Hanya beberapa
saat saja aku merasakan hal seperti itu. Lalu aku membantunya untuk berdiri.
Dia membungkam. Hanya
pandangan matanya yang berbicara. Sekarang aku berhasil membuatnya salah tingkah.
Seharusnya aku merasa senang karena dia telah kukalahkan. Tapi kenapa aku malah
jadi salah tingkah juga.
‘‘Eu... eh,
maaf. Gak sengaja.“ Kataku cepat-cepat minta maaf untuk menghilangkan perasaan
aneh ini.
Dia hanya
tersenyum sambil mengangguk pelan lalu pergi. Dia pergi. Entah ada apa lagi
denganku, aku merasa tidak rela dia pergi dari hadapanku. Eiitss, apa lagi ini.
Aneh ?!
“Eh,
tunggu! Kita belum selesai…” aku tersadar dari lamunanku.
Kini aku
harus berlari kencang mengejarnya. Aku langsung berhenti saat aku melihatnya
tengah berdiri di depan pangkalan ojeg yang sepi.
“Heh, Mpi…
tunggu! Kita belum selesai, tahu!”
Aku
berteriak padanya. Dan dia menoleh padaku.
Deg!
Jantungku
kembali berdetak kencang. Pandangan matanya yang sayu, lembut… Aiih, ada apa
lagi denganku? Huuh, tenang. Ini memang aneh, tapi aku harus meredamnya dulu.
Aku gak mau kelihatan canggung di depannya. Eiitss, what’s wrong with me? Akkh…
“Capek ya?
Makanya kalau jalan harus cepet, jangan lelet. Dasar Amoeba!”
Gadis comel
itu kini tertawa melihat tingkahku. Sepertinya sekarang dia bisa mengalahkan
aku dengan cepat dan tepat. Tapi aku tidak akan kalah darinya. Tentu saja,
tidak.
Aku
cepat-cepat menghampirinya karena aku melihat seorang tukang ojeg telah berada
di pangkalannya. Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Kini aku
sudah berdiri di hadapannya. Tapi, entah apa lagi yang sedang terjadi padaku.
Jantungku kembali berdetak kencang, malah lebih kencang. Aku menggeleng untuk
menghilangkannya.
“Kenapa
kamu geleng-geleng kepala?” Tanya gadis menyebalkan itu.
“Gak
apa-apa… eh, urusan kita belum selesai, ya!”
“Memang
belum. Kata siapa ini udah berakhir?” kini giliran dia yang tersenyum sinis
padaku.
“Bukan kata
siapa-siapa… yang jelas ini belum berakhir.” Kataku tidak mau kalah. Karena
yang aku mau adalah menang darinya.
Akhirnya,
suasana kembali normal seperti sedia kala. Dia tetap bersikap seperti itu
padaku dan aku juga akan tetap bersikap seperti itu padanya. Tiba-tiba tukang
ojeg yang ada di pangkalan itu berteriak padaku.
“De, awas
ada Bus…!!!”
Haah?
Bus..memangnya apa masalahnya? Aku langsung melihat apa yang ditunjuk olehnya.
Sebuah bus melintasi jalan ini dengan kecepatan penuh beberapa meter di
belakang gadis comel itu. Buru-buru aku menarik tangannya dan membuatnya
terjatuh, begitu pun denganku. Tapi itu lebih baik daripada harus tertabrak bus
penuh penumpang itu.
“Auu..sakit,
tahu!!!” dia membentakku.
“Yee…
ditolongin malah marah-marah. Dasar cewek aneh, loe!”
“Ya kalau
mau nolong bilang dulu, dong!”
“Apa gue
harus bilang dulu, itu mendesak tahu. Loe pasti celaka kalau gak gue jatuhin ke
tanah…”
Itulah
bentakanku yang terakhir untuk hari ini. Sekarang dia tidak bisa mengelak lagi.
Perkataanku memang benar dan dia salah. Huuh, dasar cewek kerdil!
Aku
membantunya berdiri. Tapi kejadian di depan kelas terulang kembali disini. Dia
terpeleset karena tanah yang kami injak telah dipenuhi bebatuan kecil.
Untungnya ada aku yang langsung menariknya dan memeluknya lagi. Lagi!
Kali ini
aku berusaha untuk tidak salah tingkah lagi. Tapi detakan jantungku tetap cepat
seperti tadi.
Setelah
beberapa saat dia melepaskannya dengan paksa. Dia membungkam tapi sekarang aku
berhasil membuatnya salah tingkah. Dengan cepat dia memanggil tukang ojeg itu
dan pergi dari hadapanku. Tapi sebelum motor itu mulai berjalan aku berhasil
meneriakinya.
“Gue
berhasil bikin loe salting…!”
Dan seperti
biasanya dia mencibir padaku. Entah kenapa cibiran itu membuatku tenang.
Jantungku kembali berdetak sangat kencang. Aku memegang dadaku merasakan
detakan kencang jantungku. Kini aku bisa tersenyum senang.
Angin
sepoi-sepoi menerbangkan debu-debu, membuat bakteri yang ada di sekeliling kini
menempel ditubuhku. Aku masih berdiri mematung. Perasaan ini... aneh. Aku belum
pernah merasakannya hingga saat ini, beberapa detik yang lalu. Kuukir sejarah
dengannya secara tidak sengaja, aneh! Aneh! Dan itu terulang kembali.
Sepertinya Amoeba telah menempel di jantungku, menyebar ke hatiku dan berakhir
dalam otakku. Aku hanya bisa mengingat satu kata. Cinta.



0 komentar