Untukku & Untukmu



            Dia bukanlah seorang Albert Einstein yang memiliki satu kelemahan dibalik sejuta kesuksesannya, ataupun Albert-Albert lain dibelahan dunia lain yang melewati jembatan pelangi untuk mendulang banyak koin yang ada dalam tembikar emas. Dia hanya seorang Albert biasa yang mempunyai sejuta kelemahan dibalik satu kesuksesannya. Hanya satu, itupun tidak sepenuhnya terbilang sukses. Albert, yang dulunya seorang pengangguran yang tinggal di apartemen kumuh disalah satu sisi lain dari dari Sidney, berubah hanya 60 derajat dari kehidupannya semula. Sekarang, walaupun tidak sesukses Albert-Albert lain di dunia, dia telah sedikit dikenal oleh para wisatawan dunia karena barang-barang souvenir yang ia jual.
          Di tepi jalan yang menghadap sebuah taman kota indah nan asri di pojok Sidney, setiap harinya terdengar bunyi suit-suitan, suara bebek, suara ringkikan jangkrik dan suara kicauan burung yang selalu meramaikan suasana seni di tempat itu. Semua suara itu bukan berasal dari para lelaki genit yang sedang menggoda perempuan seksi yang baru saja lewat, bukan juga dari seekor bebek, jangkrik maupun burung yang tengah asyik bertengger dipohon mapple melihat kesana-kemari dengan cemas karena pasangannya tak kuncung datang membawa makanan untuknya dan anak-anaknya. Bukan! Bukan itu, melainkan dari sebuah mainan. Aneh tapi unik, mungkin itulah pikiran-pikiran yang bersemayam dikepala para wisatawan itu. Mainan yang kebanyakn terbuat dari bamboo itu telah menyedot sedikit banyak perhatian orang-orang disekelillingnya. Semua mainan itu hanya sedikit saja yang terjual, karena mereka hanya tertarik oleh aksi Albert yang begitu lihai memainkan mainan itu. Sarang burung, mainan yang selalu ia mainkan untuk menarik perhatian orang-orang adalah salah satu dari semua mainan yang ia pajang dimeja kecil toko dadakannya.
           Albert sangat lihai menarik-mendorong tangkai bamboo tipis yang tak lain adalah ujung sarang burung untuk menghasilkan suara kicauan burung yang merdu. Semakin cepat dia menarik-mendorong ujung sarang burung dan meniupnya dengan interval yang berbeda, maka akan semakin merdu pula suara kicau burung yang dihasilkan. Untuk beberapa menit dia asyik sendiri memainkan sarang burung sampai tak sadar dua orang wisatawan dari Indonesia memperhatikannya. Albert segera menoleh pada mereka berdua setelah ia menyelesaikan permainannya.
      Mereka langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengannya bergantian. Seorang perempuan jelita dan seorang laki-laki berjenggot tipis tersenyum padanya.
         “Ini mainan tradisional Indonesia!”, Albert buru-buru menjelaskan sambil menunjukkan sarang burung ke depan mata mereka, sebelum mereka mulai bertanya.
          Wanita itu sedikit terkejut. “Ternyata anda bisa bahasa Indonesia! Wow, sungguh unik!”, ujarnya tak percaya.
            “Anda pernah pergi ke Indonesia?”, kini gilirang lelaki berjenggot tipis yang terheran-heran menatap Albert tak percaya.
            Tangan Albert bergerak lincah mengambil beberapa mainan lain dan menunjukkan pada mereka. Dia menggeleng lesu namun tetap mempertahankan senyumannya dan berkata, “Saya pernah merencanakannya bersama sahabat saya, tapi karena sesuatu hal rencana itu gagal.”
            “Sahabat anda?”, Tanya dia lagi.
            Kali ini Albert mengangguk mengiyakan. “Ya, sahabat saya!” jawabnya
            Wanita itu tersenyum geli mendengar Albert bicara. Walaupun kosakata bahasa Indonesia-nya cukup baik, namun aksen Australia-nya masih melekat pada diri Albert, seperti orang asing lainnya yang bicara bahasa Indonesia.
            “Bagaimana ceritanya? Hm, maksud saya bagaimana anda bisa menjual mainan khas Indonesia ini? Apa anda membawanya langsung dari Indonesia?”, Tanya sang wanita penasaran.
            “Ya, anda orang yang sangat unik, menjual semua mainan ini di Australia”, lelaki berjenggot tipis ikut bingung.
          Albert terdiam sesaat. Seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya, mereka langsung memperkenalkan namanya, begitu pun dengan lelaki berjenggot tipis itu.
            “Nama saya Rosalianti”
            “Saya Agus Cokro”
            “Albert”, jawabnya singkat.
            “Jadi bagaimana anda bisa menjualnya disini?”, tanya Rosalianti, melanjutkan pertanyaannya yang tadi belum terjawab.
            Albert tersenyum. Tak pernah terlintas dibenaknya akan bertemu dengan orang seperti Rosalianti, wanita yang penuh semangat mencari tahu karena terbakar rasa penasaran.
            “Awalnya sahabat saya memberikan sarang burung pada saya sebagai hadiah karena saya telah menolongnya. Dia salah satu mahasiswa dari Indonesia”, jelasnya terpatah-patah. Albert berusaha untuk bicara bahasa Indonesia dengan benar, walaupun disana-sini masih perlu perbaikan.
            Pikirannya menerawang jauh, mengingat kejadian waktu itu. Berandalan di kota yang sangat terkenal karena sering berbuat onar, entah kenapa dia kali ini dia mencoba merampas tas punggung seorang mahasiswa. Dia berlari mengejar berandalan itu, melawan arus pejalan kaki dan membuat orang sedikit penasaran apa yang sedang terjadi.
Aku disana, berdiri menantang angin laut dan menyapu pandangan mataku saat mendengar sedikit keributan. Kakiku segera bergerak cepat mengejar berandalan itu, untung saja aku hapal dengan jalur rahasia yang selalu ia lewati dan dia bergerak menuju bengkel tua yang telah lama ditutup. Aku mengambil jalan pintas untuk mengejarnya dan aku tiba disana lebih cepat darinya. Aku berdiri tepat di depannya, dia mundur lalu berbalik hendak kabur namun mahasiswa asing itu sudah lebih dulu menantangnya. Akhirnya dia menyerah, melemparkan tas punggung itu lalu dia menghilang dibalik semak belukar. Mahasiswa asing itu segera mengambil tasnya yang tergeletak di tengah. Telingaku seketika hanya mampu mendengar suara deru mobil yang melaju cepat, sedang suara lain tidak kudengar. Aku segera berteriak, menyuruhnya pergi dari situ. Mobil itu lewat begitu saja, menghalangi mataku untuk melihatnya. Dia tak ada, aku tak melihatnya. Kemana dia? Aku panik, namun setelah mobil itu menjauh, aku melihatnya terduduk di trotoar. Segera aku mengahmpirinya. Dia hanya tersenyum dan berterima kasih. Dari situ aku berkenalan dengannya dan memulai persahabatan indah itu.
            Albert segera tersadar. Kedua orang itu menanggapinya dengan membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ tanpa suara. Dengan anggukan kecil mereka segera mengerti perkataan Albert.
            Albert makin tersenyum sumringah menatap semua mainan yang tersisa. Setelah Rosalianti dan Agus cokro mendengarkan ceritanya, mereka langsung membeli mainannya. Walaupun hanya sedikit mainan yang terjual, Albert tetap tersenyum yang perlahan menjadi senyum pahit. Karena berarti dia hanya mendapat sedikit uang tambahan untuk hari ini. Seperti hari-hari biasa, hari-hari sebelum dia memutuskan untuk menjual semua mainan ini.
            Dibawah cahaya temaram lampu jalan, Abert berjalan terseok-seok menggendong tas terisi penuh mainan dan menjinjing meja lipatnya menuju sebuah gedung apartemen kumuh. Setelah melewati berpuluh-puluh anak tangga, bertegur sapa dengan tetangganya, mencium bau alkohol dari kamar berpintu merah yang setiap malamnya selalu dipenuhi pengangguran dan suara anjing menggonggong dan kucing mengeong, akhirnya dia berdiri di depan pintu kamarnya.
            Huh! Albert mendesah pelan dan kepalanya tertunduk manakala ibunya membukakan pintu dan berdiri di ambang pintu kamar. Seperti hari-hari sebelumnya ia selalu disambut tampang kekecewaan ibunya. Itu terjadi sejak ia memutuskan untuk berkerja sebagai penjual mainan itu. Entah kenapa, ia jadi sedikit bosan dan malu tiap kali ibunya memandangnya seperti itu.
            “Berapa uang yang kau dapat hari ini?”, tanya ibunya ketus.
            Albert jadi teringat saat itu, saat ia menemukan ibunya. Dulu ia kabur dari rumah karena ia tak tahan dengan semua perlakuan ayahnya yang pemabuk. Sekolah ia abaikan karena jika ia pergi ke sekolah, ayahnya akan menemukannya dengan mudah. Ia pergi ke Sidney dengan uang yang ia dapat dari tabungannya. Cukup untuk menyewa sebuah kamar di apartemen kecil untuk setahun. Keluarganya terbilang berkecukupan, namun semua berubah cepat, ayahnya dipecat dan ia berhutang besar. Hingga akhirnya ia mabuk-mabukan, pelariannya dari semua yang terjadi. Tapi harapan hidup lebih baik malah berbalik menjadi buruk. Awalnya ia bekerja di bengkel tua Pak Jake bersama Dane, yang sekarang jadi berandalan kota. Tapi beberapa bulan kemudian Pak Jake meninggal dan bengkelnya ditutup begitu saja. Hingga ia menganggur, setiap hari ia hanya berdiri menghadap laut lepas, lalu tak sengaja menolong seorang mahasiswa asing dan berteman dengannya. Semuanya berjalan cepat, dia mendengar berita ayahnya meninggal karena sakit dari ibunya. Ibunya menyusulnya ke Sidney karena rumah sudah terjual untuk membayar sisa hutang. Ada rasa bersalah saat menatap mata sendu ibunya, beliau masih bisa tersenyum. Dan dia menyalahkan dirinya untuk semua yang telah terjadi.
              Albert segera tersadar dari lamunannya. “Ini cukup untuk kebutuhan kita esok hari, bu!”, jawab Albert sambil melangkah masuk. Ia terus berusaha menghindari kontak mata dengan ibunya, ia tak ingin melihat jelas tatapan itu. Albert segera menyibukkan diri dengan membereskan barang-barangnya dan mengambil semangkuk sup dingin dari dalam panic ketika ibunya mulai berceloteh.
            “Kebutuhan apa?? Itu hanya cukup untuk membeli sup kaleng murahan ini. Kebutuhan apa lagi, hah? Jawab Ibu, nak! Kau tak bisa begini terus selamanya! Berubahlah! Untukku, untuk ayahmu, untukmu…”, suara Ibu mulai melemah, geraka tangan Albert yang sedang menyendok sup seketika terhenti saat ia mendengar Ibunya mengatakan ini…
            “Untuk sahabatmu…”
            Setelah itu, Ibu masuk ke dalam kamarnya dan suara decitan pintu terdengr sangat memekakkan telinga. Namun itu tak seberapa dengan ucapannya tadi.
            “Demi sahabatku…” ulang Albert.
            Sekarang segala hal yang tak pernah ia pikirkan malah berkecamuk dalam pikirannya. Sesuatu yang menyiksa batinnya kembali tanpa diundang. Kejadian setahun yang lalu, janji yang telah terucap, suara sarang burung bersahut-sahutan, semuanya kembali dengan cepat. Semuanya begitu jelas tergambar dikepalanya. Sahabatnya dan kejadian itu yang telah merubahnya hanya 60 derajat.
            Siang itu di dermaga Sidney, dia berdiri memandang laut lepas. Angin laut terus menerus menerabas dirinya, membuat baju lusuhnya bergerak tertiup angin. Seperti hari-hari biasa, ia datang kesini untuk menemui seseorang. Tapi tak seperti biasanya dia datang terlambat. Sahabatnya tidak datang tepat waktu. Setelah menunggunya lebih dari 15 menit akhirnya dia datang. Suara derap langkahnya segera membuat Albert berbalik. Albert tersenyum sedikit pahit melihat penampilannya, celana jeans biru, jaket abu-abu dan sebuah kacamata berframe tpis sangat menunjukkan bahwa dia salah satu orang yang beruntungan di dunia. Bisa bersekolah di universitas terkenal di Sidney tidak membuatnya angkuh. Lihat saja, sekarang dia berteman dengan orang yang pernah menolongnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan berteman dengan penduduk asli negara kangguru.
            “Hai, bung! Kau berhutang padaku lima dolar!”, Albert menepuk bahunya dengan semangat.
            “Hah? Bukankah perjanjiannya 15 menit untuk satu setengah dolar? Kau tidak bisa mencurangiku, bung!”, dia pura-pura terkejut, mundur selangkah dan menatap jenaka pada Albert.
            Suara tawa segera terdengar keras dari mulut keduanya.
            “Berjanjilah kau tidak akan datang terlambat lagi!” ujar Albert.
            Ia tersenyum lalu mengangguk pelan. “Baiklah, aku berjanji!” jawabnya.
            “Jadi apa rencanamu hari ini?”, Tanya Albert kemudian.
            Dia melangkah maju melewati Albert dan berhenti di depan pagar pembatas. Hening sesaat. Albert melihatnya tengah asyik tersenyum, sepertinya dia sedang membayangkan sesuatu.
            “Bahri….” Belum sempat ia melanjutkan pertanyaannya, jari telunjuk Bahri mendorong matanya untuk melihat objek yang ditunjuknya.
            “Kau menyukainya?”, Tanya Albert setelah melihat seorang gadis Indonesia yang ditunjuknya. Gadis itu berdiri sendiri di sebuah perahu kecil sambil memotret suasana Sidney siang hari.
            “Ya, aku sangat menyukainya. Dia adalah pacarku.”, jelas Bahri. Sebuah senyuman masih tersungging dibibirnya. Bahri berbalik menatap Albert dengan mata berbinar.
            “Aku sudah melamarnya. Dan besok kami akan pulang menyiapkan pernikahan kami seminggu lagi.”, ujarnya.
            Albert menatap gembira. “Selamat untukmu, bung! Maaf jika nanti aku tak bisa menghadiri pesta pernikahanmu. Kau sudah tahu ‘kan keadaanku saat ini? Aku pengangguran, tidak bekerja. Jadi aku tak punya cukup uang untuk pergi kesana.”
            “Kau tahu apa rencanaku hari ini?”, tiba-tiba Bahri memegang bahunya sambil sedikit mengalihkan pembicaraan. Jika menyangkut masalah pengangguran yang dialami Albert, ia hari bisa mencegah pembicaraan menjadi luas.
            Albert diam menunggu jawaban Bahri. “Aku akan mengajakmu!”, tegas Bahri.
            Albert terkesiap, ia mengerjap beberapa kali. Itu benar-benar mengejutkannya.”Kau akan mengajakku ke Indonesia? Kalau begitu aku akan bekerja disana, bekerja membantu restaurant ibumu, aku akan tinggal disana? Kau sungguh-sungguh, bung?” Tanya Albert meyakinkan.
            Tak dinyana, Bahri mengangguk cepat. ”Kalau kau mau, kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara.”
            Dan suasana siang itu terasa sangat menyenangkan bagi mereka berdua.
            Waktu berlalu dengan cepat, setelah siang tadi Bahri mengenalkannya pada gadis Indonesia itu yang bernama Juwita, mengobrol dan jalan-jalan dengan mereka berdua, Albert pun pulang tergesa-gesa. Sesampainya di apartemen, ia segera menyiapkan beberapa baju terbagusnya, membersihkan kamarnya dan memandinkan anjingnya. Sekitar pukul 10 malam semuanya sudah selesai. Tinggal menunggu waktu berjalan hingga ia akan meninggalkan kamar kumuhnya dan pergi ke Indonesia bersama Bahri dan Juwita. Kini dia berselonjor diatas kasur, membayangkan perjalanannya nati.
            “Pasti akan sangat menyenangkan!”, gumamnya.
            Pikirannya menerawang kemana-mana. Keinginannya untuk bisa meninggalkan kehidupannya di Sidney yang sangat membosankan sampai terbawa dalam mimpinya. Baginya jika ia tinggal disana, ia pasti tidak hidup seperti ini. Miskin, sengsara dan kesialannya tidak akan mengikutinya lagi. Disana ia membayangkan memiliki pekerjaan yang layak, memiliki rumah yang walaupun kecil namun indah dan nyaman. Dan ia tidak akan pusing memikirkan bagaimana ia dapat makanan, member makan anjingnya, membersihkan tubuhnya yang bau dan dekil. Tidak akan! Disana ia akan hidup berkecukupan.
            Sayang, itu semua hanyalah mimpi. Bunga tidur yang menjelma seola-olah semuanya benar terjadi. Saat dia bangun dari tidurnya karena seseorang mengetuk pintu dengan keras, hanya berita itu yang segera terlintas dikepalanya.
            Ia melirik jam dinding di kamarnya, dengan mata masih setengah tertutup. Masih jam lima pagi, masih ada waktu satu jam lagi sebelum dia berangkat ke dermaga. Disana Bahri dan Juwita akan menjemputnya dan mereka berangkat bersama-sama menuju bandara. Tapi kenapa ada yang mengetuk pintu pagi buta seperti ini?
            Albert segera membuka pintu dengan langkah malas. Ia menguap berkali-kali saat memandangi seorang wanita tua gendut dihadapannya. Rambutnya diroll berantakan dan dia masih mengenakan piyama merah marunnya.
            “Ada apa nyonya? Kau mengganggu tidurku saja!” Albert lagi-lagi menguap.
            Nyonya tua gendut itu menatap Albert dengan jengah dan kesal. Tapi buru-buru ia teringat tujuan utamanya. “Tadi ada sedikit keributan di bawah, kudengar berandalan itu beraksi lagi dan dia memukuli seorang wanita tua. Seumuran denganku. Sekarang dia terluka. Aku minta bantuanmu untuk mengusir berandalan itu dan aku akan membawa wanita itu ke rumah sakit.”, jelas sang nyonya.
            Belum sempat ia menjawab, tangannya sudah ditarik keluar dari kamarnya oleh sang nyonya. Kakinya bergerak cepat menuruni tangga. Dan benar saja Dane tengah menjambak rambut seorang wanita tua dan menendangnya berkali-kali. Albert tak bisa menerima itu, dia langsung mendorong Dane dan memukulnya.
            “Sudah berapa kali kau melakukan ini pada orang-orang, hah!” Albert membentaknya, tapi Dane balas memukulnya.
            “Jangan lakukan ini! Kau akan menyesal!! Dasar bedebah!!” Albert memukulnya, mencoba melepaskan amarahnya pada Dane. Kau juga melakukan hal yang sama pada Pak Jake…
            Perkelahian sengit pun terjadi. Sementara itu sang nyonya segera berlari menghampiri wanita itu yang sudah jatuh pingsan. Luka dan lebam biru dimana-mana telah menghabiskan tenaganya. Setelah Dane pergi dengan luka pukulan dari Albert, Albert segera menggendong wanita itu dipunggungnya dan membaringkan tubuhnya diatas kursi mobil sang nyonya.
            Sang nyonya sudah duduk dan memegang kemudi, dia bersiap pergi. Namun keadaan wanita itu membuatnya menghentikan Albert yang hendak pergi.
            “Bisakah kau membantuku lagi? Tolong bersihkan lukanya dan lepaskan kain yang menutupi wajahnya, aku takut ia tak bisa bernapas.”
            Albert segera menuruti perintahnya. Ia mulai membersihkan luka ditangan wanita itu dan membuka kain itu. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat melihat wajahnya. “Ibu…” ujarnya lemah.
            “Nyonya, kita berangkat sekarang!” teriaknya sambil membanting pintu mobil. Sang nyonya termangu sesaat, namun cepat-cepat dia menyalakan mesin mobilnya. Dan mobil pun melaju cepat melupakan keinginan Albert.
            Bahri dan Juwita datang ke dermaga. Mereka datang untuk mennjemput Albert lalu segera pergi dari tempat ini.
            Albert menggendong ibunya masuk ke rumah sakit, ia tidak mau kehilangan ibunya setelah tadi ibunya sempat sadar dan mengabarkan kematian ayahnya. “Aku tidak mau kau pergi, bu…”
            Matahari sudah mulai meninggi dan dermaga sudah mulai ramai. Bahri dan Juwita masih menunggunya. Dengan harap-harap cemas, Bahri celingukan kesana kesini melihat setiap orang yang berjalan di dermaga itu. Ia berharap diantara ratusan orang itu, ada Albert yang tengah berjalan ke arahnya. Namun harapan itu sepertinya akan sia-sia saja.
            Albert mengantar ibunya ke dalam kamar perawatan. Dia diam, menatap wajah ibunya. “Maafkan aku, bu. Aku tidak bisa mencegah kepergian ayah…”
            Bahri tak dapat menahan rasa kecewanya, manakala sahabatnya sendiri tidak datang tepat waktu. Janji yang dilontarkan oleh Albert sendiri padanya kemarin. Dengan lemas, Bahri masuk ke dalam taksi, namun harapannya belum putus. Ia kembali keluar taksi dan menunggu Albert untuk datang dan pergi bersamanya. Namun waktu sudah mengejar mereka. Juwita mengajak Bahri untuk segera pergi. Akhirnya, Bahri tak bias melakukan apapun lagi. Dengan berat hati ia kembali ke dalam taksi. Tepat pukul tujuh Bahri dan Juwita pergi menuju bandara dengan taksi yang sudah menunggu di dermaga.
            Albert terduduk lemas. Disampingnya sang nyonya terus menenangkannya. Lalu ranjang yang membawa ibunya memasuki ruang operasi. Dokter menjahit luka robeknya dengan teliti.
            Suara detak jarum jam menemaninya melewati waktu. Dokter keluar dari ruang operasi dengan senyuman. Perasaan lega segera menjalari tubuh Albert. Tiba-tiba telinganya tak bisa mendengar apapun, dengan cepat ia menangkap suara dari TV yang segera mengeras dengan jelas. Sangat memekakkan telinganya dan menghentikan degup jantungnya. Berita pesawat meledak di udara saat lepas landas itu menghujam dirinya. Semua penumpang tewas termasuk pilot. Pesawat yang membawa sahabatnya ke Indonesia telah hancur, bersama keinginanannya.
            Esoknya, Albert bertemu dengan adik Bahri, Citra. Dia bilang akan ada sekardus mainan Indonesia tiap bulannya selama 7 bulan, hadiah dari Bahri. Lalu Citra pergi setelah mereka menaburkan bunga di tempat puing-puing pesawat itu jatuh, yaitu di dermaga Sidney, ditempat dia biasa menatap laut lepas.
            Albert menggeleng, mencoba menyadarkan kembali dirinya. Ia melihat tangannya mengambang di udara, sup itu jatuh dari sendoknya. Ia jadi tak berselera makan. Dengan langkah gontai ia berjalan ke kamarnya, namun sudut bola matanya menangkap sarang burung yang tergeletak diatas meja makan. Beberapa saat dia terdiam memandanginya.
            “Ibu, aku pergi dulu!!” Albert mengambil sarang burung dan berlari keluar apartemennya. Suara derap langkahnya membangunkan ibunya. Ibunya tersenyum lembut dan kemali terlelap dalam tidurnya.
            Albert sampai di tempat itu di dermaga. Langkahnya melambat dan berhenti didepan pagar pembatas. Perlahan dia menyentuh pagar dan mengelusnya. Dia pernah menyentuhnya. Tiba-tiba disudut matanya, keluar setetes air mata yang jatuh tepat diatas permukaan pagar pembatas itu. Tangannya bergetar mengambil sarang burung dari sakunya dan mulai memainkannya sambil terisak dalam tangisnya.
            “Andai aku tidak datang terlambat, mungkin aku bisa pergi denganmu. Tapi aku tak bisa, ibuku…” dia diam.
            “Tapi aku berjanji satu hal padamu. Bahri, aku akan berubah lebih baik. Untukku dan juga untukmu…”
            Suara kicauan burung terdengar merdu dilembutnya angin malam.

0 komentar