Anak-anak
di sekolah kecil ini berkumpul di tamannya. Bermain, berlari kesana kemari tak
kenal lelah. Karena dalam pikiran, mereka hanya melakukan apa yang mereka
inginkan, apa yang mereka suka.
Mereka mulai mengganti kegiatannya.
Bernyanyi. Dan mereka mulai bernyanyi.
Balonku
ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau, kuning, kelabu,
merah muda dan biru
Meletus balon hijau
“Dorr!!” teriak mereka bersemangat.
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat.
Jujur, aku iri dengan mereka. Anak-anak polos yang belum
mengerti akan kepedihan hati.
Jujur, aku merasakannya. Sakit hatiku jika terus
mengingatnya. Namun hati dan pikiranku tak sejalan. Sialan! Pikiranku sudah
menghilangkan dia dari hidupku. Tapi hatiku tak bisa kukendalikan, dia masih
saja mengingatnya. Dia yang menyakitiku.
Jujur, aku ingin seperti mereka. Yang susah mengingat namun
mudah melupakan. Yang selalu ceria karena tak tahu arti kesedihan. Aku ingin
menjadi mereka. Aku iri dengan mereka.
Terkadang aku selalu mencoba melakukan apa yang mereka
lakukan dengan tanpa beban. Bernyanyi.
Dan itu yang kulakukan. Menyanyikan lagu-lgu yang sering
mereka nyanyikan. Balon hijau, sederhana mungkin tapi kubuat menjadi bermakna.
Kuubah liriknya dengan lirikku. Namun aku tetap
mempertahankan irama lagunya.
Aku cinta padamu
Tak pernah kuragukan
Dulu sampai sekarang
Rasaku tak berubah
Namun kau berkhianat
Cintai dia juga
Hatiku kau sakiti
Kujaga baik-baik
Aku mengikuti mereka bernyanyi. Mereka berteriak sekeras
mungkin. Aku berbisik sepelan mungkin.
Kurasakan hatiku menjadi ringan. Walau masih ada sedikit
beban yang kupikul, namun aku lega.
Beban besar tentang kepedihan ini sudah sirna. Meninggalkan
beban kecil sebagai sisanya.


0 komentar